Showing posts with label Filosofi Makanan. Show all posts
Showing posts with label Filosofi Makanan. Show all posts

Friday, August 25, 2017

FILOSOFI MAKANAN MENURUT AYU PETRA STEFFIASIH

            You are what you eat adalah salah satu ungkapan yang populer di kalangan masyarakat. Jika kita berbicara apakah ini benar atau salah, kita tentu harus menilik kembali dari sudut pandang mana kita berbicara. Apakah jangka pendek? Atau jangka panjang? Atau apakah arti sesungguhnya dari ungkapan ini?
Jika diartikan secara harafiah,  ungkapan ini memang akan memberikan arti "Anda adalah apa yang anda makan". Jika kita suka mengonsumsi makanan sehat, maka kita adalah orang yang sehat dan langsing. Jika kita mengonsumsi makanan yang banyak cepat saji, maka kita adalah orang yang malas dan identik dengan gemuk. Jika mereka setiap hari mengonsumsi daging atau makanan mahal, maka mereka adalah orang kaya. Jika mereka hanya makan sayuran dan tempe atau tahu, maka mereka adalah orang miskin. Secara mudahnya, memang akan menimbulkan kesan seperti ini. Inilah menjadi alasan banyak masyarakat mulai beramai ramai menggemakan gaya hidup sehat dan berbagai jenis diet yang dianggap bisa berhasil untuk menurunkan atau menaikkan berat badan. Bahkan, dalam salah satu artikel yang berjudul You Are What You Eat dalam website www.boxingscience.com, mencantumkan terdapat salah satu iklan snack cereal di Amerika Serikat yang menampilkan orang orang yang masuk ke sebuah toko donat untuk membeli donat sebagai menu sarapannya, lalu keluar dengan menggunakan kostum donat. Yang sontak saja membuat orang orang memandang mereka.  Maksud dari iklan ini dan hubungannya dengan ungkapan you are what you eat adalah, jika kita tidak ingin terlihat seperti donat atau apapun yang kita makan setiap pagi untuk sarapan atau junkfood yang kita konsumsi untuk makan malam, kita harus mulai makan makanan yang lebih sehat.
Dalam KBBI online, makan adalah memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya. Sedangkan makanan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan (seperti penganan, lauk-pauk, kue yang membentuk atau mengganti jaringan tubuh, memberikan tenaga, atau mengatur semua proses dalam tubuh. Betapa eratnya proses yang terjadi di dalam tubuh dengan makanan yang dikonsumsi menjadikan begitu pentingnya kita dalam memilih makanan yang akan kita "persembahkan" untuk tubuh kita. Berbeda dengan tumbuhan yang dapat membuat "makanannya" sendiri, manusia dan hewan mendapatkan makanan dari sumber makanan lainnya. Kelebihannya adalah kita dapat memilih sendiri apa yang kita hendak masukkan ke dalam tubuh kita sebagai asupan nutrisi yang akan digunakan sebagai energi nantinya.
Tubuh kita adalah sebuah sistem yang bekerja non-stop selama 24 jam dalam sehari . Proses regenerasi sel yang rusak akan membutuhkan protein untuk proses perbaikannya. Dalam beraktivitas kita akan membutuhkan energi yang berasal dari karbohidrat dan lemak. Pengaturan kerja dari sistem yang ada di dalam tubuh akan diatur oleh vitamin dan mineral. Semua nutrisi ini didapatkan dari makanan yang dikonsumsi. Makanan bergizi bukanlah makanan yang mahal. Makan daging setiap hari tidak menjamin bahwa seluruh nutrisi kita terpenuhi. Makanan mahal bukan berarti nutrisinya lengkap. Banyak makanan murah yang seringkali dianggap remeh, namun sesungguhnya mengandung kandungan gizi yang baik. Tempe misalnya, dalam 2 potong tempe (50gr), mengandung 6,65g protein dan 7,6g lemak. Dan dalam 100g tahu, terdapat 7,97g protein dan lemak 4,95g. Selain daging, sumber protein lainnya adalah ikan. Sumber karbohidrat tidak hanya dari nasi, bisa juga berasal dari ubi dan jagung. Menurut dr. Yoseph Samodra (2017), "Tidak ada satu makananpun yang memiliki seluruh macam yang dibutuhkan oleh tubuh, bahkan superfood sekalipun".  Oleh karenanya, penting untuk menjaga nutrisi yang masuk ke dalam tubuh, salah satu caranya adalah tetap mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan dengan menu yang beragam untuk menjaga nutrisi terpenuhi dengan baik. Gizi seimbang artinya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, tidak kurang dan tidak berlebih agar tubuh bisa menjalankan fungsinya dengan baik dan optimal.
Apakah memakan makanan yang kurang sehat seperti makanan cepat saji akan menjadikan kita serta merta menjadi sakit? Memakan kuning telur sekali atau dua kali, tidak serta merta menjadikan kita pengidap kolesterol. Mengonsumsi minuman bersoda atau junkfood tidak lalu menjadikan anda obesitas. Mereka yang mengonsumsi makanan yang kurang sehat tidaklah menunjukkan mereka adalah orang yang akan pasti mengidap suatu penyakit. Namun, jika ini lalu menjadi sebuah kebiasaan maka sudah tentu akan menyebabkan penyakit mulai berdatangan karena ketidak seimbangan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh kita, apalagi jika yang kita konsumsi banyak mengandung karbohidrat, gula ataupun lemak. Akan sangat mempengaruhi kondisi tubuh baik dari segi berat badan ataupun kondisi lainnya bahkan mempengaruhi produktivitas kita sehari hari.
Makanan sehat tidak harus mahal. Mereka yang makan daging setiap hari bukanlah berarti sehat, dan mereka yang sehari hari makan tempe tidak berarti kurang gizi. Menu yang beragam akan membantu pemenuhan nutrisi kita tercukupi dengan baik. Ungkapan you are what you eat akan lebih bijaksana untuk membuat kita semua lebih memperhatikan apa yang akan kita masukkan ke dalam tubuh kita. Karena selagi kita bisa memilih apa yang bisa kita berikan bagi tubuh kita dengan bebas, kenapa harus pasrah dan mengacuhkannya lalu membuatnya sakit? Apakah anda setuju?
Artikel ini ditulis oleh Ni Nengah Ayu Petra Steffiasih-41150021
               
Daftar pustaka:
Edwards, Phil. 2017. You Are What You Eat, http://www.boxingscene.com/nutrition/27314.php (diakses 24 Agustus 2017 pukul 19.00 WIB.)
FKUI. 2013. Menyusun Diet Berbagai Penyakit Berdasarkan Daftar Bahan Makanan Penukar. Jakarta: FK UI.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. [Online]. http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php  (Diakses 24 Agustus 2017 pukul 20.00 WIB.)

Filosofi Makanan Menurut Raden Roro Claude Fernasetti

Anda tentu sering mendengar istilah "You are What You Eat", bukan? Dalam Bahasa Indonesia, kalimat ini bermakna: Apa yang Anda makan menjadi kepribadian Anda. Kalimat yang dipopulerkan oleh Hipocrates dari Yunani, ketika beliau mengamati bahwa banyak orang yang jatuh sakit akibat tidak memperhatikan apa yang mereka makan, ini menjadi tidak asing lagi karena kalimat ini mengajak kita untuk  merefleksikan diri kita, siapakah kita yang sebenarnya melalui apa yang kita makan. Anda pasti berpikir, "ah, masa sih?". Sebagai makhluk hidup, kita tentu membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhkan kita, seperti memenuhi kebutuhan kita akan suplai energi untuk melakukan aktivitas kita sehari-hari. Sehingga, tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa kepribadian kita tercermin dari apa yang kita makan. Misalnya saja, seorang yang menyukai fast food, dapat dikatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang memiliki kepribadian suka menjalani hidup dengan praktis, cepat, ringkas, kemudian ada pula seorang yang menghindari daging dan produk-produk olahannya, sehingga hanya memakan sayur, yang selanjutnya disebut vegetarian, adalah seorang yang berhati-hati, telaten, dan teliti. Kemudian jika dilihat dari rasa makanan, kepribadian orang pun dapat terlihat, walau belum tentu 100% benar. Misalnya, seorang yang menyukai makanan manis, biasanya orang tersebut adalah orang dengan kepribadian yang ceria dan optimis, sedangkan seorang yang menyukai rasa asin bisanya adalah orang dengan kepribadian yang tegas dan pendiriannya kuat. Berbeda lagi dengan seorang yang menyukai rasa pahit, orang ini biasanya dikenal dengan kepribadian yang pemberani dan romantis,  sedangkan orang yang menyukai rasa asam biasanya menandakan orang tersebut dikenal dengan kepribadian yang suka tantangan dan ambisius. Di Indonesia, sensasi pedas menjadi pilihan kegemaran bagi seorang yang biasanya berkepribadian agresif dan memiliki filosofi untuk menang. 
Sewaktu duduk di sekolah dasar, tentu kita sering melihat poster di UKS yang berisikan segitiga besar berisi daftar makanan, yang selanjutnya kita ingat sebagai Segitiga Empat Sehat Lima Sempurna. Daftar makanan ini terdiri dari nasi, sayur, lauk, buah, dan susu. Kita diajak untuk memenuhi menu makanan tersebut supaya kita tumbuh menjadi anak yang sehat. Seiring dengan bertambahnya usia, kita mulai menentukan sendiri apa yang kita makan sesuai dengan selera kita. Kita mulai pilih-pilih. Bahkan, kita mulai memakan apa yang menurut kita rasanya enak, judulnya daging, judulnya sayur, yang penting kenyang. Nah, hal inilah yang membuat Negara kita, Indonesia,  menurut survey Sample Registration System pada tahun 2013 memiliki angka kematian akibat Penyakit Jantung Koroner (PJK) hingga mencapai 12.9% dari seluruh kematian di Indonesia.  Prevalensi penyakit jantung coroner berdasarkan diagnosis dokter yang dilakukan Riset Kesehatan Dasr (RisKesDas) 2013 sebesar 0.5%, sedangkan berdasar diagnosis doter atau gejala sebesar 1.5%. berdasarkan hasil survey hubungan faktor risiko dengan kejadian penyakit jantung koroner, diet yang kurang sehat menjadi faktor yang banyak mengambil peran. Efek dari apa yang kita makan selama ini tentu tidak akan langsung terasa efeknya, namun, jangan kaget bila ketika sudah lanjut usia, banyak penyakit yang akan menghampiri akibat pola makan yang tidak benar. Untuk mengetahui jenis makanan apa yang sesuai untuk kondisi saat ini, Anda bisa mengetahuinya melalui konsultasi dengan ahli gizi. Saat ini, pelayanan tenaga ahli gizi sudah mulai bisa Anda dapatkan di Puskesmas. Ingat, di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Mari memperkuat jiwa kita melalui raga yang sehat!






Daftar Pustaka:
Amirah, M. S. & Chandra Himawan. 2009. Baha-bahan Berbahaya dalam Kehidupan. Bandung: Salammadani
Ghani, L., Made Dewi S. dan Harli Novriani. 2016. Faktor Risiko Dominan Penyakit Jantung Koroner di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan.
Riandini, 2009. Bahan Kimia dalam Makanan dan Minuman. Bandung: Shakti Adiluhung.
Syam, R. 2015. Kepribadian Seseorang dari Rasa Makanan Favoritnya. Retrieved from: http://www.bacakepribadian.com/2015/08/kepribadian-dan-rasa-makanan-favorit.html?m=1# diakses pada 24 Agustus 2017.


Artikel ini ditulis oleh Raden Roro Claude Fernasetti - 41150097

Filosofi Makanan Menurut Ruth Deas Muliany

Makanan merupakan suatu kebutuhan primer atau dasar bagi setiap manusia. Makanan juga terkadang menjadi faktor penentu dari diet, keadaan ekonomi maupun derajat sosial seseorang. Dalam artikel ini kita akan membahas secara spesifik bagaimana kaitan antara makanan dengan seorang individu yang mengonsumsinya.

Pada dasarnya, setiap makanan yang dikonsumsi oleh individu akan diproses oleh tubuh untuk menjadi sumber energi, lalu energi inilah yang digunakan tubuh untuk beraktivitas setiap hari. Seiring berkembangnya zaman, makanan tidak lagi hanya menjadi kebutuhan primer bagi manusia, namun makanan kini menjadi suatu objek wisata bagi beberapa kalangan. Dewasa ini sering kita dengar dengan sebutan "Wisata Kuliner". Fenomena yang terjadi menyebabkan makanan menjadi semakin beragam bentuk penyajiannya, baik dari segi manfaat maupun penampilan/estetika. Contohnya, pada zaman dahulu kala, makanan yang kita kenal hanyalah tumbuhan dan hewan saja, manfaatnya pun hanya terbatas untuk melanjutkan kelangsungan hidup manusia, namun pada zaman ini, berbagai ragam makanan mulai bermunculan dan manfaatnya pun menjadi semakin beragam, seperti untuk kepuasaan diri semata karena bentuknya yang menarik.

"You Are What You Eat", suatu slogan populer mengenai makanan yang tidak jarang terdengar. Slogan tersebut memiliki makna bahwa apa yang kita makan akan mencerminkan diri kita, benarkah demikian?  Beberapa orang meragukan slogan ini, oleh karena mungkin hal ini tidak bisa disadari secara langsung. Namun justru akan terlihat hasilnya dibeberapa tahun ke depan atau masa yang akan datang. Hal ini dapat terlihat bila seseorang sering makan dengan porsi yang berlebih, maka diwaktu yang akan datang kemungkinan orang tersebut dapat mengalami  obesitas.

Perkembangan zaman menuntut setiap manusia untuk berperilaku praktis. Berbagai makanan pun dikemas dalam bentuk praktis sehingga lebih diminati oleh orang-orang, contohnya seperti junk food, mie instan, makanan kaleng, maupun jenis makanan instan (fast food) lainnya. Lalu pada akhirnya orang-orang akan terbuai dengan keadaan ini tanpa menyadari efek samping yang akan terjadi pada dirinya. 

Perlu kita sadari bahwa berbagai jenis makanan instan pasti mengandung bahan-bahan kimia berupa pengawet, penyedap rasa dan lain sebagainya juga komposisi makronutrient ataupun mikronutrient yang tidak seimbang sehingga akan mengacaukan metabolisme tubuh dan berbahaya bagi organ-organ tubuh manusia. Keadaan seperti ini membuat kita lebih banyak menjumpai orang-orang dengan penyakit gangguan metabolit pada masa kini baik orang dengan usia lanjut maupun yang masih tergolong muda. Penyakit tersebut antara lain diabetes melitus, hipertensi, kolesterol dan lain sebagainya, sehingga akhirnya meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

Hal ini penting untuk diketahui agar kita lebih memperhatikan jenis makanan apa saja yang sebaiknya dikonsumsi. Seorang individu perlu memilih makanan yang mengandung makronutient dan mikronutrient yang seimbang sesuai kebutuhan tubuhnya, sehingga ketika makanan tersebut  dikonsumsi akan memberi dampak status gizi yang baik bagi tubuh individu tersebut. Jadi makna dari "You Are What You Eat" dapat disimpulkan bahwa jika makanan kita baik, maka status gizi kita akan baik, begitu pula sebaliknya. Makananmu akan menjadi cerminan dirimu sendiri.

Sumber:
Katsilsambros, Nikolaos dkk. 2014. Asuhan Gizi Klinik,Jakarta: EGC
KEMENKES RI, 2014. InfoDATIN: Situasi dan Analisis Diabetes. Jakarta: Pusat Data dan Informasi KEMENKES RI

Artikel ini ditulis oleh Ruth Deas Muliany - 41150034

Filosofi Makanan Menurut Bryan Christian Anderson

                Belakangan ini, banyak remaja yang memulai untuk hidup sehat. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan badan yang kuat dan tidak mudah sakit, juga untuk mendapatkan berat badan yang ideal dan bagus untuk di pandang mata. Maka dari itu, remaja sekarang baik laki laki maupun perempuan  sudah memulai untuk pergi ke pusat kebugaran atau yang sering di sebut gym.  Banyak juga yang melakukan olahraga dengan jogging mengitari komplek rumahnya maupun pergi ke lapangan lapangan yang nyaman untuk lari dan melakukan kegiatan olahraga yang lain. Sudah sangat baik kesadaran remaja pada akhir akhir ini tentang kesehatan tubuhnya. Namun  tidak sedikit orang yang berolahraga sekedar ingin membuat tubuhnya menjadi ideal. Remaja laki laki menginginkan badan yang berotot sedangkan remaja perempuan menginginkan bentuk badan yang lansing yang sedap dipadang. Tidak salah para remaja mempunyai pemikiran seperti itu karena itu adalah hal yang positif juga dan tidak merugikan siapapun.
                Namun banyak yang menyerah di tengah jalan karena merasa dirinya tidak ada perubahan di tubuhnya. Yang menginginkan badan berotot, otot tumbuh tidak maksimal. Yang menginginkan berat badan turun dan menjadi langsing, timbangan pun tidak kunjung bergeser ke arah kiri. Dengan demikian, timbulah putus asa dan berhenti di tengah jalan adalah pilihan satu satunya karena mereasa sia-sia apa yang sudah dilakukan. Memang sudah baik apa yang dilakukan yaitu dengan olahraga teratur, pergi ke tempat kebugaran, jogging tiap sore bahkan ada yang melakukan pagi dan sore. Tetapi mengapa target tidak kunjung di dapat?
                Dalam hal ini penulis mengutip 2 slogan yang bisa mewakili apa yang sebenarnya terjadi. Yang pertama adalah "You Are What You Eat" bukan maksudnya jika anda makan daging sapi berarti anda adalah seekor sapi tapi apa yang anda makan itu yang menentukan bagaimana tubuh anda akan berkembang dan akan menjadi seperti apa. Yang kedua adalah demikian,  Arnold Schwarzenegger seorang binaraganwan dan actor Hollywood  pernah mengatakan dalam sebuah acara Tv, " Abs are made in the kitchen not in the gym".  Mari kita bahas secara singkat.
                Jika kita telah membaca 2 quote tadi, maka hal ini sangat berkorelasi dengan kasus yang sudah kita bahas di atas. Banyak remaja yang sudah rutin berolahraga, bahkan pagi dan sore namun badan tetap sama saja tidak ada perubahan signifikan. Yang sering dilupakan pada kasus ini adalah makanan. Serajin apapun kita mengangkat beban namun asupan kalori kita kurang dan tidak memadahi, lalu apa yang mau di bentuk menjadi otot? Tidak ada kan? Nah itu salah satu alasan yang paling penting namun sering dilupakan. Lalu ada orang yang mau menurunkan berat badan hingga  rela tiap pagi dan sore jogging berkeliling komplek, namun makanan pada hari itu yang masuk kedalam tubuhnya tetap sama seperti biasanya bahkan lebih banyak karena lapar setelah jogging .
                Jadi mari kita ubah cara pandang kita terhadap diet dan olahraga yang kadang sering terbalik. "You are what you eat" dan " Abs are made in the kitchen not in the gym". Sekeras apapun kita berolahraga, namun pola makan dan pola istirahat kita masih salah, semua itu akan tidak berdampak banyak dan yang terjadi adalah putus asa dan meninggalkan olahraga karena merasa tidak ada hasil. Jadi diet dulu yang di utamakan, diiringi olahraga dan istirahat cukup dan lakukan dengan konstan jika Tuhan berkehendak pasti akan berbuah hasil. Selamat berdiet dan berolahraga!
Artikel ini ditulis oleh Bryan Christian Anderson - 41150056

Filosofi Makanan Menurut Komang Jourdy


Makanan adalah hal yang terpenting untuk menjaga kelangsungan hidup manusia, dimana seperti yang kita ketahui tenaga dan energy yang kita dapatkan setiap hari itu berasal dari makanan dan minuman yang kita konsumsi, maka dari itu semua organisme memerlukan makanan dan minuman yang bergizi dan sehat untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. karena hal itu sebaiknya makanan yang kita konsumsi sehari hari seharusnya mengandung berbagai macam nutrisi yang diperlukan oleh tubuh sehari hari seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, Nah dengan kita mengkonsumsi makanan makanan yang memiliki kandungan lengkap seperti itu maka tubuh kita akan dapat melakukan metabolisme dengan baik.
Kita semua pasti pernah mendengar tentang istilah you are what you eat, yang artinya kamu adalah apa yang kamu makan, jadi if you eat the healthy one, then you'll be healthy, bila kita mengkonsumsi makanan yang sehat pasti kita menjadi sehat bergitu pula sebaliknya bila kita mengkonsumsi makanan yang tidak sehat maka kita akan menjadi tidak sehat  karena makanan termasuk pola hidup yang paling penting untuk dijaga karena berperan sangat penting untuk menentukan kelangsungan hidup manusia, banyak manusia yang menganggap bahwa makanan hanya berpengaruh sedikit dalam kelangsungan hidup mereka, itu sebenernya salah besar dimana makanan yang kita konsumsi merupakan salah satu faktor terbesar yang dapat menyebabkan suatu penyakit, disamping kebiasaan buruk lainnya dan faktor gen, maka dari itu mulai dari sekarang penting halnya untuk kita mengkonsumsi makanan yang sehat dan kita juga harus menyeimbangkan kebutuhan asupan gizi kita selain itu makanan yang kita konsumsi pun mencerminkan akan pengetahuan kita tentang kesehatan.
Untuk menyeimbangkan kebutuhan asupan gizi manusia, tubuh setidaknya memerlukan karbohidrat 60% protein 20% lemak10% vitamin dan mineral 10%, kita perlu mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat banyak karena karbohidrat berperan sangat penting di dalam diet kita sebagai sumber energy  yang tidak tergantikan bagi tubuh protein juga sangat di salam diet kita karena sebagai penyeimbang asam basa, pengaturan cairan, pertumbuhan, ekspresi gen dan lain lain, lalu lemak digunakan sebagai cadangan bahan bakar jangka panjang, juga berperan sebagai pelarut vitamin larut lemak Kita perlu mengkonsumsi vitamin, karena vitamin tidak disentisis cukup dalam tubuh manusia. Vitamin tersusun atas 13 molekul organic berbeda yang memiliki struktur dan fungsi yang beragam dan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar, Vitamin yang larut air (vitamin B kompleks dan C) serta vitamin larut lemak (ADEK). dan yang terakhir adalah mineral, mineral sangat diperlukan oleh tubuh walaupun hanya dalam jumlah yang sedikit dikarenakan fungsi mineral sebagai keseimbangan cairan dan penting bagi struktur jaringan, fungsi system enzim, fungsi sel dan neurotransmisi.
Dan untuk melakukan diet yang sehat dan seimbang sangat diperlukan kedisiplinan dan untuk mengingatkan kita, istilah you are what you eat sangat baik untuk menjadi istilah yang bermakna buat kita ingat, jadi jika kita ingin hidup sehat maka makan makanan yang sehat, karena you are what you eat.
sumber :
Katsilambros, Nikolaos., dkk. 2013. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta: EGC.
Artikel ini ditulis oleh Komang Jourdy Kharisma P – 41150016

Filosofi Makanan Menurut Chatarina Triskawardani

"You Are What You Eat", merupakan sebuah frasa yang memiliki gagasan bahwa untuk sehat kita perlu makan-makanan yang bergizi. Arti tersebut saya dapatkan dari www.phrases.org.uk, begitu pula dengan sejarah nya yang mencetuskan bahwa munculnya frasa tersebut berasal dari buku "Physiologie du Gout, ou Meditations de Gastronomie Transcendante, 1826" yang ditulis oleh Anthelme Brillat-Savarin yang dalam bahasa aslinya " Dis-moi ce que tu manges, je te dirai ce que tu es." Yang terjemahannya berarti "Katakan padaku apa yang kamu makan, dan aku akan mengatakan apa sebenarnya dirimu". Namun pakah frasa ini salah? Atau benar? Saya pikir sebuah frasa ini memiliki banyak arti tergantung dari individu masing-masing. Apakah jika saya memakan ayam saya menjadi ayam? Atau ketika saya memakan tumbuhan saja saya menjadi vegetarian? Pemikiran tersebut tidak ada yang salah, tapi apakah hanya sampai batas tersebut? Menggali lagi lebih dalam, frasa ini rasanya kompleks untuk di terjemahkan.
Sebagai seseorang yang berada di lingkungan kesehatan, semua itu lebih kompleks dari yang saya pikirkan. Setiap hari kita memakan berbagai macam makanan, bahkan makanan sedikit apapun akan sangat berarti bagi tubuh kita. Luar biasanya tubuh kita menerima itu semua dan berusaha menyeimbangkan kadar nutrisi yang ada dengan yang di perlukan oleh tubuh kita. Apabila kita memakan makanan penuh nutrisi apakah kita menjadi sehat? Saya rasa makanan saja tidak dapat menentukan diri saya. Saya merasa keterlibatan dari pola gaya hidup yang sehat juga menentukan diri saya, saya ambil contoh olahraga. 2 orang yang sama-sama memakan makanan sejenis, belum tentu berakhir sama tanpa di imbangi olahraga, ataupun tidur yang cukup. Bukan berarti makan-makanan yang sehat tidak mencerminkan tubuh yang sehat hanya saja terlalu banyak faktor yang menjadi pertimbangan hal tersebut.
 Di dunia kesehatan pasien yang datang pada kita datang dengan berbagai macam penyakit dan kita di sini menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menyembuhkan pasien tersebut, tapi dengan cara yang bagaimana? Apakah hanya dengan pemberian obat yang dapat menyembuhkan mereka? Obat tidak bisa melakukan apa yang bisa di lakukan nutrisi bagi tubuh kita. Nutrisi yang di serap di dalam tubuh kita menjadi cikal bakal terbentuknya sel yang baik yang akan menggantikan sel yang telah rusak di tubuh kita. Jadi bukankah sudah jelas? Semua karbohidrat, protein, mineral, vitamin, dan lemak yang kita makan tentu akan menjadi bagian dari tubuh kita. Tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi juga apa yang ada di dalam pikiran kita. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, sebuah frasa latin yang tak asing di telinga kita. Jiwa yang kuat menentukan pilihan jalan hidup yang kita tempuh dan pilihan kita dalam memilih makanan yang kita makan setiap hari menjadi sebuah proyeksi akan keinginan bagaimana kita hidup di masa depan.  
Eat a healthy food for a better life and make a change on how you want your life to be. Dengan makanan, olahraga, dan tidur yang teratur dan cukup akan semakin baik kedepannya bagi tubuh kita. Jadi sudah makan makanan apa saja hari ini?

Artikel ini ditulis oleh Chatarina Triskawardani Kusumaningrum - 41150088

Daftar Pustaka

Filosofi Makanan Menurut Christofer Sathya

"Makan tengah malam bisa bikin gendut" adalah pernyataan yang tidak tepat. Untuk memahami mengapa pernyataan tersebut tidak tepat maka pertama-tama saya akan menjelaskan bagaimana 3 unsur makanan diproses dalam tubuh, apa itu BMR, dan akhirnya saya akan mengambil alasan mengapa pernyataan tersebut tidak tepat.
Tiga unsur utama makanan
Makanan mengandung tiga unsur utama, antara lain karbohidrat, protein, dan lemak. Ketiga unsur tersebut mempunyai manfaat masing-masing untuk tubuh kita. Kita ambil contoh lemak. Lemak berfungsi sebagai cadangan bahan bakar jangka-panjang, sebagai pelarut bagi penyerapan vitamin larut-lemak (vitamin A,D,E,K), penting dalam sintesis struktur membran sel, dan merupakan prekursor sintesis hormon (hormon steroid dan hormon sex). Tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, lemak merupakan unsur makanan yang memiliki stigma paling buruk, baik dikalangan muda hingga kalangan dewasa, terutama dalam segi estetika. Bagi kalangan muda, menjaga tubuh agar tetap kurus adalah suatu bentuk pernyataan diri untuk ingin tetap diterima dalam pergaulan. Bagi kalangan dewasa, pengurangan lemak yang drastis, bahkan hingga melakukan pemaksaan keluar makanan setelah dimakan (bulimia), dilakukannya untuk meningkatkan rasa percaya diri saat tampil di muka umum. Motivasi ini ternyata tidak tepat, sebab dari kondisi inilah yang memicu seseorang mengalami dampak dari kekurangan lemak tersebut. Bayangkan apabila tubuh kita kekurangan vitamin A, dimana kulit kita akan lebih bertanduk, fungsi penglihatan menurun, hingga terjadinya gangguan reproduksi akibat atrofi epitel germinal testis sehingga seorang pria bisa jadi sulit mendapatkan keturunan. Apabila kita kekurangan vitamin K, maka tubuh kita akan mudah sekali kehilangan banyak darah ketika diri kita terluka sebab faktor-faktor pembekuan darah di dalam plasma darah berkurang.
Apa yang terjadi dengan ketiga unsur tersebut di dalam tubuh kita?
Karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa dan diserap ke dalam darah untuk dibawa kel sel-sel tubuh agar diubah menjadi energi. Apabila energi yang dihasilkan dari glukosa sudah mencukupi sedangkan glukosa di dalam darah masih banyak, glukosa akan diubah menjadi lemak dan disimpan sebagai cadangan makanan. Tetapi, bila tubuh kehabisan glukosa untuk membentuk energi, maka cadangan lemaklah yang akan dipecah untuk membentuk energi. Dan apabila cadangan lemak tidak mencukupi kebutuhan tubuh maka proteinlah yang akan diubah dan dipecah untuk diubah menjadi energi. Lemak dalam makanan akan dipecah menjadi asam lemak dan monogliserol yang kemudian diserap ke dalam darah untuk membentuk struktur sel maupun untuk diubah menjadi hormon-hormon. Dan apabila jumlah yang diserap ternyata  berlebihan maka kelebihan tersebut akan disimpan dalam bentuk lemak di perut, paha, pinggul. Pada protein, setelah unsur ini dipecah menjadi asam amino dan diserap tubuh ke dalam darah, asam amino akan dipakai tubuh untuk membentuk sel-sel tubuh mulai dari rambut, kuku, kulit, sel otot, sel sperma, dan lain-lain. Apabila jumlah protein ini melebihi kebutuhan, maka sisanya akan dimasukan ke dalam sel-sel tubuh sebagai protein dalam sel. Dan apabila tubuh kekurangan asam amino, maka protein sel inilah yang akan segera dipecah untuk mencukup kebutuhan tubuh.
Apa itu Laju Metabolik Basal?
Laju metabolik basal (basal metabolic rate, BMR) adalah salah satu dari tiga komponen yang menyusun pemakaian energi. BMR adalah sejumlah energi yang digunakan untuk menjalankan metabolisme basal, yaitu metabolisme yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari seperti metabolisme pada jantung, paru-paru, sirkulasi darah, hingga otak. Laju metabolik istirahat (resting metabolic rate, RMR) merupakan energi yang digunakan saat kita sedang istirahat. Jadi, sewaktu kita sedang istirahat atau tertidur, meskipun kita tidak sedang beraktivitas, organ-organ di dalam tubuh kita tetap bekerja. Kerja dari organ-organ tersebut, seperti jantung, paru-paru, otak sirkulasi darah, tetap membutuhkan energi. RMR membutuhkan sekitar 10-20% energi lebih banyak dari pada BMR akibat dari keterlamabatan efek aktivitas fisik dan efek termik makanan.
"Bagaimana bisa makan malam tidak bikin gendut?"
"kamu adalah apa yang kamu makan". Tubuh yang sehat ditentukan oleh makanan yang kita makan, tubuh yang mudah sakit juga ditentukan oleh makanan yang kita makan, tubuh yang  gemuk juga ditentukan oleh porsi makanan kita sehari-hari. Dari filosofi inilah kita mecoba untuk menyadari jenis makanan apa yang kita makan, seberapa banyak porsi yang kita makan tiap kali makan, sudah lengkapkah unsur-unsur yang ada di dalamnya? Setelah kita menyadari makna dari kata-kata tersebut baru kita coba implementasikan dalam aktivitas makan tengah malam kita. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka kita dapat menyimpulkan bahwa apabila tubuh kita dalam keadaan status gizi normal (tidak overweight maupun obesitas), maka kita diijinkan untuk makan tengah malam. Porsi yang dianjurkan adalah lebih sedikit dari makanan-makanan utama dalam satu hari (makan pagi, siang, malam) namun memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dari pada lemak dan protein agar tidak meningkatkan cadangan lemak, baik dari kelebihan glukosa tersebut maupun dari kandungan lemak makanan itu sendiri. Dengan prinsip cara makan yang seperti itu, tubuh kita tidak akan mudah menjadi gemuk meski kita sering makan tengah malam. Jadi, inilah makna dari "kamu adalah apa yang kamu makan", yaitu kita harus selalu dalam keadaan seimbang sebab tubuh merupakan manifestasi dari keseimbangan itu sendiri.
Daftar pustaka:
1.      Katsilambros, Nikolaos, dkk. 2013. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta: EGC.
2.      Guyton AC, Hall JE. 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta: EGC
Artikel ini ditulis oleh Christofer Sathya Wijaya Budi Sarwono-41150077

Filosofi Makanan Menurut Brahmastra Megasakti

The bible quotes, "Do you not know that your bodies are temples of the Holy Spirit, who is in you, whom you have received from God? You are not your own;", that being said, it goes without saying that our bodies are pure and sacred. A direct resemblance of God himself to us, the mankind. I had the privilege of being born functional and without defects. I have had enjoyed the greatest pleasure to be able to stand the ground I am on now. I have gone through, at some point of my life, appendectomy and battling Salmonella typhi infection. I have been in some state of incapability, unable to perform my daily activities with the best performance of mine and instead painfully laying on hospital bed because I didn't take enough good care of my body. I took my body for granted, I was crippled because I was not being careful of the food I had taken in for consumption. Having experienced being in-patient for several times, I have come to a conclusion: My life is too short to just lay on hospital bed and be in sickness.
The notion 'you are what you eat' means that in order to be fit and healthy you need to eat good food. And what does good food mean? It cannot be doubted that our bodies need all the essential nutrition to be healthy. Good health, good life. Back in my elementary years, I was very familiar with the slogan "4 Sehat 5 Sempurna", it was very widely used to educate the people to arrange their diet with sufficient source of carbs, protein, fat, mineral, and fiber from primary food, side dishes, vegetables, fruits (4 Sehat), and milk to perfect the menu (5 Sempurna). Primary source of carbs being widely used by us, Asians, are rice, while in other regions of Indonesia the commodities like cassava and sagu are more common to replace rice. While side dishes like meat and seafood are good source of proteins, vegetables and fruits are great source of vitamin, minerals, and fiber as well. But of course, having gone through my third year of medical school, healthy diet goes beyond just the slogan "4 Sehat 5 Sempurna". Certain medical conditions will have to force patient to modify their diets and nutrition intake. Diabetic patient's diet differs with the one that suffers from neoplastic condition. And that's where the question is. How on earth we could develop ourselves to suffer from diabetes? How is it possible for us to acquire unnecessary infection of Salmonella? We were once a healthy human being. We could function well. We were capable to carry on daily basis. And then we get sick, and things started going down since.
I completely agree that I am what I eat. I am very much aware that it runs in my family a genetic diabetes susceptibility, hence makes me exposed by one the risk factors. But then again, they are just risk factors! They need to be induced to manifest as signs and symptoms. And I fully hold the responsibility to not induce them, to prevent them to develop into the disease itself. I believe that our bodies are capable of doing great things. We are teachers, engineers, and health professionals of our nations. Everyone, regardless which field they are in, we all should take part to create a better world! And with that purpose, it is very necessary to function ourselves well. It is very necessary to be healthy. And those can be achieved by living a good lifestyle and eating good food. Health definition by WHO even states that health is a state of well-being and not merely the absence of disease. If you were free of any disease but you didn't contribute to make this world a better place, what would your purpose actually be?

Artikel ini ditulis oleh Brahmastra Megasakti – 41150025

Filosofi Makanan Menurut Natasha Chanellia

"You're what you eat" Slogan ini mencerminkan kebutuhan makanan yang dapat menunjukkan sikap atau perasaan yang sedang dialami oleh seseorang. Dari slogan ini saya melihat bahwa apa yang telah saya masukkan ke dalam tubuh saya dapat mempengaruhi saya secara tidak langsung baik segi psikologis maupun fisik. Begitu pula sebaliknya, psikis dan fisik juga dapat mempengaruhi apa yang ingin saya makan. Bagi saya, makanan merupakan sesuatu yang berguna bagi kelangsungan hidup saya. Karena dari makanan terutama makanan yang telah menjadi favorit saya, secara tidak langsung dapat meningkatkan perasaan saya menjadi lebih baik.

Kita sering mendengar bahwa mood atau perasaan seseorang juga dapat mempengaruhi keinginan makan seseorang. Sebagai contoh, jika seseorang sedang cemas atau khawatir, seseorang tersebut cenderung untuk menolak makanan karena sedang kehilangan selera makannya. (Asuhan Gizi Klinik, 2013). Lalu, apabila seseorang sedang bahagia, biasanya seseorang tersebut akan cenderung lebih naik nafsu makannya. Ada juga, beberapa orang yang sedang sedih akan mengalihkan perhatiannya ke makanan dengan harapan akan lebih baik lagi perasaannya. Namun, ada juga yang menolak untuk makan karena kesedihannya sudah terlalu dalam. Namun, dari hal ini saya melihat bahwa peran makanan sangat penting bagi seseorang, tidak hanya untuk perubahan mood, tetapi juga kesehatan fisik tubuh. Orang yang berduka atau sedih mendalam, cenderung menolak makanan yang kandungan gizinya dibutuhkan oleh tubuh dapat menyebabkan dampak menurunnya kesehatan tubuhnya sendiri.

Apa yang dimasukkan ke dalam tubuh, makanan maupun minuman yang dikonsumsi seseorang dapat menjadi salah satu ukuran untuk melihat kualitas hidup (dalam hal ini kesehatan) seseorang. Sebagai contoh: seseorang dengan kebiasaan konsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung karbohidrat dapat terkena hiperglikemi atau kelebihan glukosa dalam darah yang dapat berdampak menjadi diabetes mellitus, obesitas, dsb.(Asuhan Gizi Klinik, 2013) Dari hal tersebut, perlu diperhatikan kembali, apa yang dikonsumsi semua sudah seimbang, antara kebutuhan karbohidrat, protein dan asam amino, lemak dan lipid, vitamin, dan mineral. Semua kandungan tersebut memiliki perannya masing-masing di dalam tubuh. Dan kandungan-kandungan tersebut saling melengkapi satu sama lain, untuk kelangsungan homeostasis di dalam tubuh. Seimbang disini bukan berarti semua dibagi rata menjadi 20% dimasing-masing kandungan, tetapi dilihat lagi kebutuhan kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun, jika dibuat untuk porsi makanan, semua kandungan harus tetap tercakup didalamnya dengan persentase komposisi yang berbeda-beda.

Apa kepentingan melihat atau memperhatikan makanan yang dikonsumsi? Makanan merupakan sumber energi bagi tubuh. Energi dibutuhkan oleh tubuh untuk melaksanakan berbagai macam fungsinya, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, kerja fungsi organ hingga proses penyembuhan akibat sakit atau cedera. Energi tubuh manusia dapat dikatakan seimbang saat pemakaian energi setara dengan asupan energi. Jika terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan pemakaian energi, hasilnya dapat positif (simpanan energy tubuh bertambah (terutama lemak)) ataupun hasil negatif (tubuh banyak mempergunakan cadangan energinya (lemak, protein, glikogen)).(Asuhan Gizi Klinik, 2013)
Pemakaian energi oleh tubuh memiliki 2 komponen, yaitu :
1.     Energi yang dipakai untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan olahraga fisik
2.     Energi yang dipakai sebagai respon terhadap beragam rangsang termogenik yang mencakup makanan yang dikonsumsi, beberapa obat tertentu, suhu rendah, tegangan otot, stress, dan keadaan psikologis yang serupa.
(Asuhan Gizi Klinik, 2013)

Dari hal-hal diatas saya dapat menyimpulkan bahwa, makanan merupakan sumber energi yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melakukan aktivitasnya. Dari energi yang didapatkan dari makanan, seseorang dapat melakukan banyak hal. Kekurangan atau kelebihan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dapat mempengaruhi kesehatan seseorang.

Artikel ini ditulis oleh Natasha Chanellia Intan Putri-41150046

Daftar Pustaka :
Katsilambros, Nikolaus et al. 2016. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta : EGC
  

Filosofi Makanan Menurut Edwin Timoti

            Manusia modern (homo sapiens) umumnya memerlukan tiga kebutuhan primer atau pokok untuk keberlangsungan hidup. Papan, pangan, dan sandang begitulah ketiganya disebut. Khususnya untuk pangan yang merupakan kebutuhan paling penting manusia untuk bertahan hidup, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.  Seperti halnya mobil yang bergerak menggunakan bahan bakar minyak (BBM), begitu pula manusia yang membutuhkan makanan/pangan untuk bekerja dan beraktivitas.  Jika bahan bakar minyak yang digunakan tidak sesuai dengan mesin mobil, maka mobil tidak dapat dijalankan sampai bisa saja mesinnya rusak karena salah bahan bakar. Persis seperti manusia yang harus menjaga pola makan agar tetap dapat beraktivitas dengan normal. Makna dari contoh inilah yang mungkin tertuang pada peribahasa yang kerap kita lihat atau dengar belakangan ini "You are what you eat".
            "You are what you eat", peribahasa ini belakangan ini populer di akun-akun media sosial anak-anak muda bahkan orang dewasa. Jika diartikan secara harfiah atau dengan menerjemahkannya kedalam Bahasa Indonesia maka "You are what you eat" berarti "anda adalah apa yang anda makan".  Tentu saja makna dari ungkapan ini tidak bisa diartikan secara langsung seperti itu, namun merupakan kata kiasan atau peribahasa yang kira-kira mengartikan jika Apa yang kita makan merupakan gambaran dari apa yang terjadi pada tubuh kita. Orang yang makan banyak serta tidak menjaga pola makan yang sehat maka  tubuhnya juga akan gemuk dan rentan sakit. Sedangkan orang yang makan dengan pola makan seimbang maka lebih sehat ketimbang orang yang pertama. Mungkin kira-kira seperti itu yang dipikirkan orang-orang saat membaca kata "You are what you eat".  Pemikiran ini tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Terkadang orang-orang lupa dengan kegiatan lain yang sama pentingnya dengan diet dalam menjaga hidup sehat yaitu Olah raga teratur. Jika melakukan kedua hal ini, olah raga teratur dan menjaga pola makan. Maka bukan hanya sehat namun juga bugar.
            Selain itu, ada juga argumen yang mengatakan jika "arti dari You are what you eat berkaitan dengan sikap kita, kepribadian berasal dari apa yang dimakan. Contohnya penyuka fastfood lebih memilik kepribadian yang suka praktis dan cepat dan ringkas. Vegetarian berarti orang yang suka pilih-pilih makanan." Menurut saya argumen ini tidak sepenuhnya salah ataupun benar.  Karena setiap orang berhak untuk memiliki selera yang berbeda meski itu tidak sehat. Itulah tugas tenaga kesehatan dan orang-orang yang paham untuk menyebarluaskan fakta tentang pola makan yang sehat dan seimbang. Kembali ke ungkapan you are what you eat, orang-orang biasanya lebih berpikir ke sisi jasmani padahal ada juga sisi rohani didalam tubuh kita. Kalau kita lihat dari sisi rohani, maka akan sangat dalam makna dari ungkapan ini. Apa yang kita makan harus berasal dari hasil yang baik. Makanan dari hasil yang baik tentu memperlihatkan sikap kita yang baik, begitu juga sebaliknya.
            Kesimpulannya ungkapan You are What You Eat berrmakna sangat luas dan dalam, sehingga kita harus melihatnya dari berbagai sisi baik jasmani maupun rohani. Orang lain mungkin punya pendapat dan argumen yang berbeda yang harus sama-sama kita hormati dan hargai.

Daftar Pustaka

 Agoesman. (2009, Agustus 12). You are What You Eat. Retrieved from Agoesman's Blog:     https://agoesman120.wordpress.com/2009/08/12/you-are-what-you-eat/
 Artikel ini ditulis oleh Edwin Timoti Japanto - 41150059

Filosofi Makanan Menurut Ruth Prilia Gitasari

You're what you eat, kamu adalah apa yang kamu makan, merupakan suatu slogan yang tidak begitu asing untuk didengar dan sangat sesuai dengan kondisi saat ini. Kata-kata tersebut bukan hanya sekedar kata tak berarti melainkan sebuah kata yang mengandung beberapa makna didalamnya, mengandung ungkapan akan sesuatu hal yang tidak semua orang dapat memahaminya. Slogan tersebut menginformasikan kepada kita bahwa apapun yang masuk kedalam tubuh kita melalui saluran pencernaan (mulut) dapat menggambarkan atau mencerminkan seperti apa kita ini. Sehingga diasumsikan jika apa yang kita makan akan mempengaruhi kondisi tubuh seseorang dan nantinya akan terlihat dari segi penampilan atau sesuatu yang dapat dinilai orang lain. Oleh karena itu, seseorang perlu memperhatikan asupan makanannya apabila ingin terlihat memiliki penampilan baik, baik penampilan dari dalam maupun dari luar.
Menurut KBBI, makan adalah memasukan sesuatu atau memasukan makanan pokok ke dalam mulut. Sehingga makan itu merupakan suatu kegiatan dimana kegiatan tersebut sangat diperlukan oleh tubuh untuk memenuhi kebutuhannya secara jasmani. Namun tak jarang pula makan dilakukan orang-orang tertentu hanya untuk mendapatkan kepuasan semata, hanya untuk mendapatkan kepuasan akan makanan mahal makanan terkenal, ataupun memakan makanan yang bergengsi.
Banyak orang akan merasakan rasa puas dan senang setelah mengkonsumsi makanan tertentu tanpa memperhitungkan kebutuhaan yang dibutuhkan oleh tubuh ataupun kandungan dalam makanan tersebut. Asal makanan yang kita makan sesuai dengan keinginan kita, tak jarang kita akan memakan makanan tersebut sebisa dan sesering mungkin, sebagai contoh apabila terdapat seseorang yang sangat menyukai makanan kalengan, makanan awetan dan fastfood atau goreng-gorengan, ia akan sebisa mungkin memakan tersebut sesering mungkin, tidak memperhatikan efek dari makanan tersebut. Seringkali kita juga tidak memperhitungkan kebutuhan kita, kita tidak peduli berapa kalori yang kita butuhkan dan kita dapatkan dari makanan yang kita makan serta efek dari makanan tersebut bagi tubuh kita. Hal itu terjadi karena seringkali kita hanya memakan makanan yang kita inginkan, yaitu yang kita sukai bukan yang tubuh kita butuhkan.
Kebiasaan buruk dalam mengkonsumsi makanan itulah yang dapat memberikan pengaruhi buruk bagi kondisi tubuh kita, mungkin efek dari makanan tersebut belum kira rasakan sekarang, mungkin datangnya tidak hari ini namun bukan berati tidak berefek bagi tubuh kita bukan? Mungkin saja efek dari kebiasaan buruk ini dapan datang 10 atau 20 tahun kemudian. Oleh karena itu, apabila kita dapat menjaga kebiasaan makan kita dan mengendalikan makanan kita, pastinya kita akan memiliki kondisi tubuh ataupun penampilan yang baik pula.
Slogan "You're what you eat" memang sangat mencermikan dengan kondisi diatas. Apa yang kamu atau kita makan akan sangat mempengaruhi penampilan kita.. Seperti yang dikatakan oleh ahli gizi NYU Medial Center, Samantha Heller, MS, RD, "Everything you eat becomes a part of not only your inner being, but the outer fabric of your body as well. The healthier the foods are that you consume, the better your skin will look" dimana jika kita mengkonsumsi makanan yang sehat maka kulit kita pun akan meperlihatkan keindahannya pula, demikian sebaliknya. Sehingga apa yang kamu atau kita makan saat ini akan mencerminkan seperti apa diri kita. Kamu adalah yang kamu makan, You're What You Eat.


Artikel ini ditulis oleh Ruth Prilia Gitasari - 41150054

Filosofi Makanan Menurut Tiffany Budijanto

Ada sebuah slogan yang menarik tentang makanan yaitu "You are what you eat". Secara harfiah, slogan ini dapat diterjemahkan bahwa "kamu adalah apa yang kamu makan". Walaupun secara harfiah, slogan tersebut memiliki arti demikian, akan tetapi kita tidak dapat menyimpulkan secara langsung bahwa bila kita sering mengonsumsi makanan yang manis, pasti kita memiliki kepribadian ataupun kehidupan yang manis. Tidak dapat dipungkiri, berdasarkan pilihan makanan yang dikonsumsi seseorang, memang benar biasanya makanan yang dikonsumsi akan menggambarkan profil orang tersebut secara umum (misalnya jenis dietnya dan status sosial) akan tetapi, sebenarnya makna dari slogan ini adalah bahwa apa yang kita makan dari dulu hingga sekarang akan mencerminkan kehidupan kita sekarang maupun di masa yang akan datang. Cerminan kehidupan yang dimaksud dalam slogan ini adalah kualitas hidup kita dan hal tersebut dapat dinilai dari tingkat kesehatan dan tingkat produktivitas dalam melakukan kegiatan sehari – hari.
Sedikit mengulas tentang makanan, Widyosiswoyo (1991:211-213) mengatakan, "Pangan adalah kebutuhan yang paling utama bagi manusia dan pangan dibutuhkan manusia secara kuantitatif maupun kualitatif". Dengan demikian, seharusnya makanan yang kita makan sehari – hari tidak hanya mementingkan kepuasan atau jumlah porsinya saja, akan tetapi juga harus mengutamakan kandungan gizi yang seimbang. Gizi yang seimbang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air yang jumlahnya harus disesuaikan dengan kebutuhan masing – masing individu. Dari komposisi tersebut, komponen yang merupakan sumber energi utama bagi tubuh adalah karbohidrat, sebab karbohidrat merupakan komponen yang di dalam tubuh akan paling banyak diubah menjadi energi.  Menurut Katsilambros dkk (2016:1), "Tubuh manusia perlu energi guna melaksanakan berbagai macam fungsinya, membantu kerja otot, memenuhi kebutuhan perkembangan serta memperbaiki gangguan yang dapat disebabkan oleh penyakit atau cedera", akan tetapi sayangnya, dewasa ini, semakin banyak orang yang meremehkan tentang pentingnya gizi seimbang dan cenderung memegang prinsip yang penting enak dan kenyang. Akibatnya rentan terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan pemakaian energi yang berakibat pada kesehatan secara umum dan berpengaruh pada berat badan. Katsilambros dkk (2016:1) mengatakan, "Hasil dari ketidakseimbangan antara asupan dan pemakaian energi dapat berupa keseimbangan energi positif yang berarti simpanan energi tubuh (dan terutama lemak) bertambah, atau keseimbangan energi negatif, yang berarti tubuh banyak mempergunakan cadangan energinya (lemak, protein, dan glikogen)". Bila simpanan lemak terus bertambah, maka yang terjadi adalah obesitas, sebaliknya bila cadangan energi terus menerus dipakai berlebihan, maka yang terjadi adalah malnutrisi. Walaupun kebanyakan masyarakat menganggap kondisi tersebut bukanlah kondisi yang serius, akan tetapi perlu diketahui bahwa sebenarnya kedua kondisi merupakan faktor resiko terjadinya berbagai penyakit di masa yang akan datang. Salah satu contoh penyakit yang dapat timbul karena kondisi obesitas misalnya adalah diabetes mellitus / penyakit kencing manis yang membutuhkan pengobatan seumur hidup.
Berdasarkan penjelasan diatas, sebaiknya kita menjadikan slogan "You are what you eat" sebagai reminder / pengingat. Bila kita mengonsumsi makanan yang sehat dengan gizi seimbang, niscaya kita akan memperoleh manfaat positif yang dapat terlihat dari tingkat kesehatan, tingkat produktivitas dan penampilan fisik kita yang lebih baik. Sebaliknya bila kita memilih untuk meremehkan apa yang kita makan dan cenderung hanya mementingkan faktor kepuasan, maka kita harus siap dengan segala resiko timbulnya berbagai penyakit yang belum kita rasakan saat ini dan menurunnya kepercayaan diri kita dikarenakan penampilan fisik kita yang menjadi kurang proporsional (misalnya terlalu gemuk atau terlalu kurus).So, the choice is yours! Masa depan kita sangatlah tergantung dari pilihan kita saat ini. Oleh karena itu, marilah kita bersama memperhatikan asupan makanan kita dan selalu mengutamakan gizi yang seimbang untuk kesehatan dan kehidupan kita yang lebih baik.
Sumber:
Katsilambros, Nikolaus dkk. 2016. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta : EGC
Widyosiswoyo, Hariwijaya Soewandi. 1991. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta : Ghalia Indonesia
Artikel ini ditulis oleh Tiffany Budijanto - 41150057

Filosofi Makanan Menurut Dimas Satrio

    Kita tidak asing dengan istilah "you are what you eat" ,  istilah ini terpampang dalam judul buku, artikel, hingga serial televisi. Menurut artikel yang ditulis oleh Eric R. Dusteler di website http://kennedy.byu.edu mengungkapkan bahwa istilah ini diperkenalkan oleh seorang komentator makanan Jean Anthelme Brillat-Savarin. Pada tahun 1825 Jean Anthelme Brillat-Savarin menerbitkan buku berjudul "Physiologie du goût : Méditations de Gastronomie Transcendante" yang diterjemahkan dalam bahasa inggris "Meditations on Transcendental Gastronomy". Buku ini sangat sukses, dan merupakan usaha nyata pertama untuk merenungkan makanan secara serius dan sistematis. Dalam buku inilah tertulis ungkapan Jean Anthelme Brillat-Savarin "Dis-moi ce que tu manges, je te dirai ce que tu es" atau "tell me what you eat, and I will tell you what you are," yang kini kita kenal dengan istilah "you are what you eat."
    Bila kita telusuri di internet dengan topik "you are what you eat" sebagian besar hasilnya menyinggung tentang pola makan dan gaya hidup sehat. Saya mengambil dua contoh, yang pertama dari website  www.phrases.org.uk. Website ini menjabarkan frasa tersebut "The notion that to be fit and healthy you need to eat good food." Yang berarti bila ingin hidup sehat maka harus mengonsumsi makanan yang baik. Masa depan kesehatan tubuh kita ditentukan oleh apa yang kita konsumsi dulu dan kini. Contoh yang kedua dari website https://chubaoyolu.org. Website ini tak jauh beda dengan yang sebelumnya yaitu mengaitkan frasa ini dengan topik dan masalah kesehatan. Namun yang menarik adalah dalam website tersebut terdapat satu poster yang menarik untuk diperhatikan dan dibahas. Poster tersebut menggambarkan orang dengan berat badan yang berlebih identik dengan junk food sedangkan orang yang proposional identik dengan makanan yang sehat yaitu sayur dan buah. Poster ini dapat memberikan stereotype kepada pembaca bahwa orang dengan berat badan berlebih berhubungan dengan makanan siap saji dan porsi makan yang banyak. Selain memotivasi individu agar memperbaiki pola makan dan gaya hidupnya, hal ini dapat berkembang menjadi stereotype yang berujung pada prejudice. Karena setiap individu dilahirkan dengan kecenderungan obese yang berbeda dan dipengaruhi oleh faktor genetik ( Indra, 2006). Sehingga belum tentu orang dengan berat badan berlebih berarti memiliki porsi makan yang banyak dan identik dengan makanan yang tidak sehat seperti makanan siap saji.
    Apakah frasa "you are what you eat" ini hanya sebatas berhubungan pada kesehatan saja ? Saya rasa tidak. Frasa ini juga dapat berhubungan dengan kebudayaan. Kita sering mendengar lelucon seperti beras atau nasi identik dengan orang asia. Bila kita renungkan kembali bukankah ini juga arti dari "you are what you eat", kamu makan nasi karena kamu orang asia, begitu pula dengan orang barat yang identik dengan makan roti. Yang mulanya nasi ataupun roti adalah makanan pokok dapat melekat pada individu dan menjadi ciri khas individu tersebut.
    Setelah membaca banyak sumber, frasa "you are what you eat" memiliki arti yang luas, tidak hanya dalam topik kesehatan tetapi juga sosial dan budaya.


Daftar Pustaka
http://kennedy.byu.edu/you-are-what-you-eat/
http://www.phrases.org.uk/meanings/you-are-what-you-eat.html
https://chubaoyolu.org/2017/01/15/you-are-what-you-eat-wait-is-that-really-true/
Indra, Muhammad. (2006). Dasar Genetik Obesitas Viseral .Laboratorium Fisiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang

Artikel ini ditulis oleh Dimas Satrio Wicaksono - 41150084

Ikutilah Jalan Orang Baik dan Orang Benar

Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar. Amsal 2:20 TB