Showing posts with label Jurnal Gizi. Show all posts
Showing posts with label Jurnal Gizi. Show all posts

Thursday, August 31, 2017

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Corvi Atria

Ibu menyusui membutuhkan asupan gizi lebih banyak daripada ibu yang tidak menyusui sehingga membutuhkan keberagaman jenis makanan yang dikonsumsi. Sebagian besar ibu menyusui di Indonesia memiliki status gizi yang kurang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan keberagaman jenis makanan, tingkat kecukupan gizi dengan status gizi ibu menyusui. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 96 ibu menyusui yang masih memberikan ASI dengan usia bayi 0-6 bulan. Jumlah subjek 53 orang yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dan Rank Spearman. Disarankan kepada puskesmas untuk meningkatkan frekuensi promosi kesehatan seperti penyuluhan makanan sehat, beragam terutama pentingnya mengkonsumsi sayur dan buah-buahan saat menyusui oleh petugas kesehatan seperti kader posyandu.
Pemenuhan gizi yang baik bagi ibu menyusui akan berpengaruh terhadap status gizi ibu menyusui dan tumbuh kembang bayi. Ibu menyusui membutuhkan tambahan energi sebesar 800 kkal yaitu 600 kkal untuk ibu menyusui dan 200 kkal untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Selama menyusui ibu dianjurkan meningkatkan asupan energi, protein, kalsium, zat besi, asam folat, dan vitamin serta mineral untuk mencukupi kebutuhan zat gizi saat menyusui.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa status gizi selama menyusui juga memberikan dampak berarti yaitu menurunkan berat badan karena ibu mengeluarkan energi yang besar. Beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi yaitu, keberagaman jenis makanan, dan kecukupan gizi
Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa adanya hubungan antara keberagaman jenis makanan dengan status gizi ibu menyusui dan ada hubungan pantangan makanan dengan starus gizi pada ibu menyusui di Kota Semarang .

Informasi tambahan:
HUBUNGAN KEBERAGAMAN JENIS MAKANAN dan KECUKUPAN GIZI DENGAN INDEKS MASA TUBUH (IMT) PADA IBU MENYUSUI DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGMUDU KOTA SEMARANG TAHUN 2016
Syifa Fauzia, Dina Rahayuning P , Laksmi Widajanti
Mahasiswa Peminatan Gizi FKM UNDIP
Dosen Bagian Gizi FKM UNDIP
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-journal) volume 4, nomor 3, April 2016.
https://media.neliti.com/media/publications/18566-ID-hubungan-keberagaman-jenis-makanan-dan-kecukupan-gizi-dengan-indeks-massa-tubuh.pdf

Artikel ini ditulis oleh Corvi Atria 41150076

Tuesday, August 29, 2017

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Natasha Chanellia

Jurnal yang akan saya ringkas mengangkat judul "Pengetahuan Gizi, Keluhan Kesehatan, Kondisi Psikologis, dan Pola Pemberian ASI Ibu Postpartum" memiliki tujuan untuk mengetahui pengetahuan gizi, status kesehatan, kondisi psikologis serta kaitannya dengan pola pemberian ASI pada ibu postpartum. Hal ini dikarenakan dalam upaya pembangunan millenium atau Millennium Development Goals (MDGs) yang terkait langsung dengan pembangunan kesehatan antara lain meningkatkan kesehatan ibu dan menurunkan angka kematian bayi (AKB). Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) juga merupakan salah satu tolak ukur ketercapaian kesejahteraan rakyat. Tingginya angka kematian neonatal (AKN) dan AKI menunjukkan pentingnya memperhatikan periode postpartum karena merupakan periode pemulihan setelah proses melahirkan yang membutuhkan pengobatan dan perawatan. Pola pemberian ASI memiliki keterkaitan dengan kondisi postpartum, sehingga penting untuk identifikasi dini terhadap risiko gangguan psikologis pada ibu postpartum untuk mengurangi pengaruh negatif kondisi psikologi ini dan berpotensi untuk meningkatkan keberhasilan pemberian ASI.

               Tingkat pengetahuan akan gizi berdasarkan penelitian yang dilakukan pada ibu postpartum dapat terbilang cukup, walaupun ada sebagian besar objek hanya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan SMP. Pengetahuan ibu akan gizi baik yang diteliti ini mendapatkan pengetahuannya bersumber dari bidan/petugas kesehatan, kader posyandu, televisi, keluarga, dan teman/tetangga. Hanya saja sangat disayangkan, masih banyak tenaga kesehatan yang justru mempromosikan susu formula, sehingga cukup tinggi persentase ibu postpartum yang tidak memberikan ASI secara eksklusif.

               Ibu postpartum yang diteliti pada jurnal ini memiliki beberapa keluhan kesehatan yang terbilang rendah. Hal ini dapat dipengaruhi juga oleh pelayanan postpartum yang yang dilakukan oleh petugas kesehatan maupun secara mandiri (swamedikasi). Perawatan yang dilakukan oleh subjek adalah kontrol bidan atau tenaga kesehatan lainnya, pijat atau urut, dan mengonsumsi obat serta jamu tradisional. Pada penelitian ini, terapi terbesar yang dilakukan oleh ibu postpartum adalah meminum jamu tradisional, yang pada sebuah penelitian oleh Dahlianti et al di tahun 2005 menunjukkan sebagian besar ibu postpartum yang mengonsumsi jamu galohgor akan merasakan manfaat penyegaran tubuh dan penyembuhan rahim setelah melahirkan.

               Pada penelitian yang dilakukan sebagian besar ibu postpartum mengalami depresi. Hasil wawancara menunjukkan bahwa depresi diakibatkan karena rasa khawatir dan cemas tanpa alasan. Alasan depresi lain adalah karena rasa sedih dan jengkel tanpa alasan. Selain hal tersebut, ibu postpartum juga dapat mengalami depresi karena faktor ekonomi, hal ini karena subjek penelitian ini tergolong keluarga miskin dengan persentase sebanyak 50%. Peranan suami juga penting untuk menentukan pengeluaran ASI (let down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh perasaan ibu.

               Sebagian besar ibu postpartum yang diteliti telah melakukan praktik IMD. Hal ini dipengaruhi oleh pelayanan dan perawatan ibu postpartum, contohnya bidan/dokter. Sebagian besar ibu postpartum juga memiliki produksi ASI yang cukup.

               Untuk hubungan antara pengetahuan gizi dengan pola pemberian ASI, pengetahuan ibu postpartum akan pengetahuan gizi sangat mempengaruhi pola pemberian ASI yang dilakukan. Dengan memiliki pengetahuan akan kolostrum dan pemberian makanan terbaik bagi bayi justru cenderung memberikan ASI eksklusif. Namun, tidak hanya karena kedua alasan tersebut ASI eksklusif dapat diberikan, tapi berdasar penelitian Forster et all tahun 2006, alasan lainnya adalah karena keinginan kuat dari sang ibu untuk memberikan ASI dan telah mengkonsumsi ASI saat masih bayi.

               Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan secara tabulasi silang terdapat kecenderungan bahwa semakin rendah keluhan kesehatan ibu postpartum, maka pola pemberian ASI akan lebih baik. Demikian pula semakin baik praktik IMD, produksi ASI semakin cukup, frekuensi dan durasi pemberian ASI, serta pemberian ASI secara eksklusif yang cenderung semakin meningkat. Keluhan kesehatan yang paling sering dialami adalah terkait dengan gangguan pada payudara yang sangat menentukan keberhasilan proses laktasi. Keluhan tersebut adalah puting susu yang lecet dan pembendungan ASI yang masing-masing dialami oleh 50% ibu postpartum. Namun, walaupun dengan keadaan puting yang lecet cenderung tetap melakukan pemberian ASI. Puting susu yang lecet dapat disebabkan karena teknik menyusui yang salah atau perawatan yang tidak benar pada payudara. Dan apabila terjadi pembendungan ASI akan terasa nyeri, sehingga ASI lebih baik dikeluarkan.

               Hubungan antara kondisi psikologis dari ibu postpartum dan pola pemberian ASI tidak menunjukkan kecenderungan korelasi dengan pola pemberian ASI. Ibu postpartum yang menjadi subjek penelitian ini seluruhnya mengalami baby blues syndrome dengan pengalaman bersalin lebih dari satu kali. Sebagian besar ibu tetap melakukan praktek IMD dan memberikan ASI eksklusif walaupun mengalami depresi bahkan kecukupan produksi ASI tergolong cukup. Menurut Yuliastati tahun 2003, menyebutkan bahwa dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan tersebut dapat memberi dorongan positif bagi ibu menyusui.

               Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah, pola pemberian ASI sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, selain dari pengetahuan gizi yang dimiliki oleh ibu postpartum dan kondisi kesehatan ibu postpartum, tetapi juga faktor lingkungan sekitar, mulai dari pelayanan kesehatan, keluarga atau teman terdekat sampai dengan faktor ekonomi. Penanganan kesehatan yang dilakukan dengan baik dapat mengurangi angka kematian ibu (AKI) dan pemberian ASI yang dilakukan secara tepat dan baik juga dapat mengurangi angka kematian neonatal (AKN) atau angka kematian bayi (AKB).

Artikel ini ditulis oleh Natasha Chanellia Intan Putri – 41150046


Baca lebih lanjut di jurnal berikut ini :
Armina Puji Utari, Katrin Roosita, M. Rizal M. Damanik; Pengetahuan Gizi, Keluhan Kesehatan, Kondisi Psikologis, dan Pola Pemberian ASI Ibu Postpartum. Jurnal Gizi dan Pangan November 2013; 8(3): 187-192

Ringkasan Jurnal Perubahan Status Gizi Balita Pada Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi oleh Jean Priskilla

Ringkasan Jurnal Perubahan Status Gizi Balita Pada Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi oleh Jean Priskila

Menurut Depkes 2013, prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada anak berusia dibawah lima tahun (balita) tahĂșn 2013 adalah 19,6% terdiri atas 5,7% gizi buruk dan 13,9% gizi kurang. Adapun Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi merupakan salah satu cara untuk menanggulangi kasus gizi buruk maupun gizi kurang. Program yang dilakukan ini meningkatkan status gizi anak balita di masyarakat dengan memberikan edukasi berupa penyuluhan dan rehablitasi gizi dengan pemberian PMT, pemeriksaan kesehatan, pengobatan, serta pemberian zat gizi mikro. Intervensi yang dilakukan berupa makanan tambahan, suplemen zink, dan penyuluhan gizi selama 6 bulan. 
Upaya penanggulangan sangat penting untuk dilakukan mengingat dampak yang diakibatkan sangat luas dan kompleks. Beberapa dampak negatif gizi buruk dan gizi kurang pada balita adalah  menganggu pertumbuhan fisik dan mental, hilangnya masa hidup sehat, serta dapat menimbulkan kecacatan, tingginya angka kesakitan, dan percatan kematian (Ali 2006; Mamhidira 2006; Andriani & Sofwan 2012). Selain itu dampak lain dari adanya gizi buruk adalah menurunnya kinerja dan prestasi belajar (Anies dan Martianto tahun 2006). 
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kutai Timur, Kalimantan Timur didapatkan hasil rata-rata z score nyata lebih tinggi setelah mengikuti program edukasi dan rehabilitasi gizi. Selain terjadi perbaikan gizi pada balita ternyata terdapat juga balita dengan penurunan status gizi dan status gizinya tetap atau tidak mengalami perubahan gizi. Adapun hasil yang beragam diakibatkan oleh beberapa faktor yakni kepatuhan ibu atau orang tua untuk membawa anaknya mengikuti program yang dilaksanakan dan juga nafsu makan anak sebagai faktor yang paling dominan. Faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya penurunan gizi antara balita yang tidak aktif mengikuti program, balita dengan ISPA, kecacingan, dan yang sedang mengonsumsi obat cacing. Selain itu juga status diare anak mempengaruhi perubahan dari status gizi anak pada umumnya. 
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi bermanfaat dalam hal penaikan BB dan status gizi , menurunkan risiko penyakit infeksi juga meningkatkan nafsu makan anak. Balita yang mengalami penaikan atau perbaikan gizi umumnya ialah yang aktif mengikuti program, nafsu makan yang balk dan frekuensi makan yang lebih atau sama dengan 3x sehari. Agar dapat mendapatkan hasil yang optimal diperlukan komitmen dari orang tua untuk mengikutsertakan anaknya dalam program ini tetapi juga diikuti dengan praktek langsung dirumah bagaimana memberikan gizi yang cukup kepada anaknya.

Sumber : Perubahan Status Gizi Pada Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi, Jurnal Gizi dan Pangan Vol 10, No 3 (2015) : November 2015 oleh Ariska, Yusi; Kustiyah, Lilik; Widodo, Yekti


Artikel ini ditulis oleh Jean Priskilla Diana Rumere-41150083

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Tiffany Budijanto

            Masa kehamilan merupakan masa yang sangat menentukan kualitas hidup sumber daya manusia. Hal ini dikarenakan tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya semasa janin di dalam kandungan (Depkes RI, 2007). Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi janin sejak dalam kandungan adalah kesehatan ibunya semasa kehamilan, oleh karena itu, untuk memastikan pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang janin yang optimal diperlukan asupan gizi yang adekuat. Gizi merupakan substansi – substansi yang diperlukan makhluk hidup untuk mengoptimalkan fungsi normal tubuh, pertumbuhan, perkembangan dan pemeliharaan kesehatan secara umum. Salah satu mineral essensial yang penting untuk kesehatan ibu dan dibutuhkan janin di masa kehamilan adalah zat besi (Fe). Zat besi penting bagi pemeliharaan kesehatan ibu hamil, sebab pada masa kehamilan terjadi peningkatan volume plasma yang tidak sebanding dengan penambahan massa sel darah merah. Akibatnya terjadi pengenceran darah yang diikuti dengan penurunan kadar hemoglobin, sehingga hal ini secara fisiologis akan meningkatkan kebutuhan pemenuhan zat besi dalam tubuh ibu hamil dan berpotensi dapat menimbulkan kondisi anemia dalam kehamilan.

Anemia dalam kehamilan ialah kondisi menurunnya kadar hemoglobin ibu hamil hingga dibawah 11gr%. Hemoglobin merupakan zat dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh termasuk ke janin yang dikandung ibu. Anemia dalam masa kehamilan yang tidak segera tertangani dengan tepat sangat beresiko bagi ibu dan janin. Adapun dampak dari anemia tersebut antara lain: keguguran, partus prematurus, partus  lama, kematian  janin dalam  kandungan (Intra Uterine Fetal Death),  syok,  afribronogenemia, hipofibrinogenemia dan infeksi  intra  partum yang pada akhirnya dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu dan janin / bayi
Selain karena respon fisiologis tubuh untuk mengkompensasi peningkatan ekspansi massa sel darah merah, anemia dalam kehamilan umumnya disebabkan karena asupan zat gizi yang tidak adekuat pada ibu hamil semasa kehamilannya. Asupan gizi yang dianjurkan semasa kehamilan diantaranya adalah konsumsi makanan yang kaya zat besi, asam folat dan juga vitamin B. Contoh makanan dengan kandungan gizi tersebut diantaranya adalah daging merah, ikan, hati, kuning telur, produk susu dan kacang – kacangan. Selain makanan tersebut, ibu hamil juga dianjurkan mengkonsumsi makanan yang mempermudah penyerapan zat besi, misalnya adalah makanan yang tinggi vitamin C (contohnya adalah buah jeruk) dan menghindari makanan / minuman yang menghambat penyerapan zat besi (contohnya adalah teh dan kopi).
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asupan nutrisi pada ibu hamil, mengetahui kadar hemoglobin pada ibu hamil, dan mengetahui hubungan asupan nutrisi dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil. Metode penelitian yang dilakukan adalah survey analitik dengan cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di BPS Suratini Suwarno Surakarta selama 6 bulan dengan populasi target dalam penelitian 40 ibu hamil dan teknik sampel yang dilakukan adalah secara quota sampel.
Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara asupan nutrisi dengan kadar hemoglobin (Hb) pada ibu hamil.

Judul Artikel Asli                               :
Hubungan Asupan Nutrisi dengan Kadar Hb pada Ibu Hamil di BPS Suratini Suwarno Surakarta
Nama Jurnal                                       :
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada (Kesmadaska) Volume 5 No. 1 Januari 2014
Penulis                                                :
Anis Nurhidayati, Erlyn Hapsari
Tahun Terbit                                       :
2014
Baca lebih lanjut di jurnal berikut ini :
Artikel ini ditulis oleh Tiffany Budijanto - 41150057


Virus-free. www.avg.com

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Willy Christian Putra Philipus Taslim

Jumlah angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi dibandingkan negara ASEAN lain­nya. Indonesia menduduki peringkat ke-4 terting­gi setelah Kamboja, Myanmar, dan Laos (Depkes RI 2009).  Angka kematian bayi yang dilaporkan oleh puskesmas Kab. Brebes tahun 2014 sebesar 10,4 per 1.000 kelahiran hidup atau sebanyak 348 kasus kematian bayi dari 33.456 kelahiran hidup (Dinkes Kab. Brebes 2014). Faktor penyebab ke­matian bayi diantaranya tingkat status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Keluarga Berencana (KB) serta kondisi lingkungan, sosial ekonomi dan BBLR (Dinkes Kab. Brebes 2014).

Brebes merupakan Kabu­paten di Jawa Tengah yang tingkat pemakaian pestisidanya cukup tinggi karena luasnya lahan pertanian khususnya bawang merah. Kabupaten Brebes merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah tertinggi di Indonesia dengan penggunaan pestisida yang tinggi. Sektor pertanian merupakan penopang perekonomian masyarakat kabupaten Brebes dengan komoditi utamanya bawang merah. Peng­gunaan pestisida cenderung tinggi yakni bisa dilakukan penyemprotan hingga tiga hari sekali selama proses penanaman sampai dengan proses pemanenan karena umumnya petani mengantisi­pasi OPT sejak awal tanam. Keberadaan OPT di lahan akan mendorong petani menggunakan pes­tisida secara berlebihan dengan meningkatkan takaran, frekuensi penyemprotan dan komposisi jenis campuran pestisida yang digunakan. Bah­kan tidak sedikit petani menganut cover blanket system dimana ada ataupun tidak ada OPT, pesti­sida tetap diaplikasikan.
Keterlibatan ibu hamil dalam kegiatan per­tanian menyebabkan mereka terpajan pestisida misalnya ketika petani menyemprot di sawah dan ibu hamil sedang mencari hama atau mencabut rumput dari tanaman, ketika ibu hamil mencuci pakaian yang dipakai sewaktu bertani memung­kinkan ibu terpajan pestisida yang menempel pada pakaian tersebut, demikian halnya pada waktu panen melepaskan bawang dari tangkainya ibu hamil akan terpapar dengan pestisida yang menempel pada kulit bawang yang dipanen. Hal ini dapat menyebabkan terakumulasinya pajanan pestisida dalam tubuh ibu hamil sehingga meng­ganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungannya dan dapat mengakibatkan terjadinya BBLR.
Hal lain yang mendukung adalah karena kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, oleh sebab itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut diperlu­kan untuk partumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besar organ kandungan, dan peruba­han komposisi tubuh, sehingga kekurangan zat gizi yang diperlukan saat hamil dapat menyebab­kan janin tumbuh tidak sempurna (Sigalingging 2009). Tambahan makanan untuk ibu hamil dapat diberikan dengan cara meningkatkan baik kuali­tas maupun kuantitas makanan ibu sehari-hari, bisa juga dengan memberikan tambahan formula khusus ibu hamil atau menyusui (Muwakidah & Zulaekah 2004).
Status gizi kurang menunjukkan bahwa ibu sudah mengalami keadaan kurang gizi dalam jangka waktu cukup lama, maka kebutuhan gizi untuk proses tumbuh kembang janin menjadi terhambat, akibatnya melahirkan bayi BBLR (Supariasa et al. 2002). Status gizi kurang cende-rung dikaitkan dengan tingkat ekonomi keluarga, tingkat ekonomi yang rendah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya daya beli terhadap pangan untuk memenuhi kebutuhan sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi seluruh anggota ke­luarga. Apabila hal tersebut terus berlangsung, maka status gizi keluarga, khususnya ibu hamil akan memburuk (Proverawati & Asfuah 2009).
Bagi ibu perlu dilakukan upaya peningkatan asu­pan karbohidrat, sumber protein, selain itu diper­lukan upaya penyuluhan melalui kelas ibu hamil. Bagi petugas kesehatan dan petani perlu adanya kerjasama dalam upaya penurunan paparan pestisida ibu hamil melalui penggunaan alat pelindung diri seperti pemakaian masker, penggunaan sarung tangan, cuci tangan sewaktu melakukan aktivitas pertanian dan pembersihan diri setelah melakukan aktivitas pertanian. Selain itu, tidak ikut serta dalam pemeliharaan bawang merah atau proses lainnya seperti penanaman, pemanenan, pembersihan dan penyemprotan.

Baca lebih lanjut jurnal berikut ini :
Diah Ratnasari, Suhartono, Mohammad Zen Rahfiludin; Faktor Resiko Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Area Pertanian (Studi di Kabupaten Brebes). Jurnal Gizi Pangan, Volume 12, Nomor 1, Maret 2017 .

Artikel ini ditulis oleh Willy Christian Putra - 41150042

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Sendy Tampubolon

Asupan makanan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi skor AIP (Atherogenic Index Plasma), diantaranya asupan karbohidrat, asupan lemak dan asupan serat. Studi eksperimen ini dilakukan kepada sejumlah 40 petugas tiket tol di Semarang untuk mengetahui pengaruh pemberian jus buah jambu biji merah terhadap skor AIP. Selanjutnya dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dimana keduanya mendapat asupan karbohidrat yang berbeda. Perbedaan ini terjadi karena rata-rata asupan kepada kelompok perlakuan termasuk baik (82,4%) sedangkan pada kelompok kontrol termasuk kategori sedang (69,3%). Setiap hari petugas tiket tol disediakan segelas teh dan kopi oleh perusahaan, dan beberapa dapat menghabiskan teh dan kopi lebih dari satu gelas setiap waktu kerja. Asupan minuman tersebut berpengaruh besar terhadap jumlah asupan karbohidrat terutama karbohidrat sederhana. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat akan meningkatkan laju lipogenesis dan esterifikasi asam lemak sehingga meningkatkan sintesis trigliserida dan sekresi Very Low Density Lipoprotein (VLDL) serta dapat menurunkan kadar  Kolesterol HDL.

Setelah diberi jus jambu biji merah selama 21 hari, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh pemberian jus buah jambu biji merah terhadap skor AIP sebelum dikontrol oleh usia, tingkat asupan karbohidrat dan kondisi awal, serta tidak terdapat perbedaan diantara kedua kelompok. Pengaruh jus buah jambu biji merah terhadap skor AIP mempunyai hasil yang tidak signifikan yang dikarenakan meskipun terjadi penurunan trigliserida tapi tidak diikuti oleh peningkatan HDL yang signifikan. Serat yang terkandung dalam jus buah jambu biji merah merupakan serat larut air yang dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler dengan menurunkan kadar lipid di dalam plasma. Serat larut air dapat memiliki efek hipotrigliserida yang walaupun belum dapat dijelaskan secara pasti mekanismenya, dapat menyebabkan penundaan absorbsi trigliserida dan gula dari usus halus. Serat juga memiliki efek menurunkan resistensi insulin dan kadar insulin sehingga menyebabkan penurunan asam lemak bebas yang dapat mencegah akumulasi trigliserida dalam darah.
Terdapat hubungan yang signifikan pemberian jus buah jambu biji merah selama 21 hari terhadap skor AIP setelah dikontrol oleh usia, asupan karbohidrat dan kondisi awal, artinya pengaruh usia, tingkat asupan karbohidrat dan kondisi awal terhadap skor AIP sebesar 55,9% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Penelitian ini menunjukkan bahwa vitamin C dan serat yang terkandung dalam jus buah jambu biji merah sangat baik untuk menurunkan kadar trigliserida dimana vitamin C berperan sebagai homeostasis dengan menurunkan kadar trigliserida yang tinggi.Selain itu jus jambu biji merah juga mengandung magnesium dan kalium, dimana magnesium ini berperan dalam memperbaiki kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida, serta meningkatkan HDL.

Baca lebih lanjut di jurnal berikut ini:
Riva Mustika Anugrah, Kusmiyati Tjahjono, Martha Irene Kartasurya; Jus Buah Jambu Biji Merah (Psidium guajava L.) Dapat Menurunkan Skor Atherogenic Index of Plasma. J. Gizi Pangan, Maret 2017, 12 (1):17-22. Doi: 10.25182/jgp.2017.12.1.17. Tersedia daring: http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan.
Artikel ini ditulis oleh Sendy Tampubolon - 41150023

Monday, August 28, 2017

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Ngesti Chintia Dewi

Penatalaksanaan Diet pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) pre dialisis stadium IV pada dasarnya mencoba memperlambat penurunan fungsi ginjal lebih lanjut dengan cara mengurang beban kerja nephron dan menurunkan kadar ureum darah.  Jumlah dan jenis protein yang diberikan pada pasien PGK pre dialisis sangat penting untuk diperhatikan karena protein berguna untuk mengganti jaringan yang rusak, membuat zat antibodi, enzim dan hormon, menjaga keseimbangan asam basa, air, elektrolit, serta menyumbang sejumlah energi tubuh. Pada pasien PGK protein diberikan lebih rendah dari kebutuhan normal, oleh karena itu diet ini biasa disebut Diet Rendah Protein. 

Pada waktu yang lalu, anjuran protein bernilai biologi tinggi/hewani hingga ≥60%, akan tetapi pada saat ini anjuran cukup 50%. Saat ini, sumber protein sebagai lauk pauk tidak hanya bersumber dari protein hewani tetapi dapat disubstitusi dengan protein nabati untuk pengganti protein hewani sebagai variasi menu. Namun kebutuhan protein tetap diperhitungkan dengan memperhatikan segala kelebihan dan kekurangan.
Berdasarkan uji kualitas protein menggunakan Protein Digestibility Corrected Amino Acid Score (PDCAAS) yang menggambarkan jumlah asam amino dari protein dan tingkat daya cernanya pada manusia, protein kedelai mempunyai nilai yang sama dibandingkan dengan putih telur dan protein susu, kecuali asam amino methionin yang harus ditambah. Demikian pula asam amino esensial lisin kurang pada beras dan triptopan kurang pada jagung, akan tetapi apabila bahan makanan yang mengandung asam amino terbatas dikonsumsi secara bersamaan dalam hidangan sehari-hari, memungkinkan saling melengkapi asam aminonya untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh. Sumber protein dari kacang-kacangan dan produk kedelai, seperti tempe, tahu, susu kacang juga mengandung kalium dan fosfor yang cukup tinggi, sehingga untuk mencegah hiperkalemia dan hiperfosfatemia tetap dibutuhkan pengikat fosfor dan kalium yang adekuat. Produk kedelai cukup aman untuk selingan pengganti protein hewani sebagai variasi menu dengan jumlah sesuai anjuran. Akan tetapi tidak untuk suplemen atau tambahan sehingga melebihi kebutuhan. Hal positif yang didapat dari protein nabati adalah mengandung phytoestrogen yang disebut isoflavon yang memberikan banyak keuntungan pada PGK. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan didapatan protein dari kedelai dapat menurunkan proteinuria, hiperfiltrasi, dan proinflamato cytokines yang diperkirakan dapat menghambat penurunan fungsi ginjal lebuh lanjut. Penelitian lain mengenai diet dengan protein nabati pada pasien PGK adalah dapat menurunkan ekresi urea, serum kolesterol total dan LDL sebagai pencegah kelainan pada jantung yang sering dialami pada pasien PGK.
Asupan protein yang konsisten dan terkendali pada pasien PGK adalah penting.  Dengan mengatur makanan seperti menjalani diet rendah protein serta menggunakan protein nabati sebagai pengganti protein hewani dapat menunda penurunan fungsi ginjal sehingga meningkatkan kualitas pasien. Namun tetap diperhatikan variasi dan jumlah dari protein nabati yang diberikan sehingga tidak menyebabkan defisiensi asam amino tertentu dan tidak terjadi hiperkalemi dan hiperfosfatamia

Referensi:
Kresnawan Triyani, Markun HMS. Diet Rendah Protein Dan Penggunaan Protein Nabati Pada Penyakit Ginjal Kronik. Divisi Ginjal Hipertensi Bagian Penyakit Dalam FKUI-RSCM: 2012.


Artikel ini ditulis oleh Ngesti Chintia Dewi – 41150092.

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Wili Dirda Adventio

            Gizi lebih pada remaja merupakan masalah gizi yang harus segera ditangani karena berhubungan dengan masalah kesehatan pada masa dewasa. Pada jurnal ini dilakukan penelitian terhadap konsumsi air sebelum makan terhadap remaja putri yang memiliki gizi lebih. Penelitian ini berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 bahwa di negara Indonesia penduduk yang berumur 15 tahun ke atas prevalensi obesitasnya secara umum lebih tinggi pada perempuan (23,8%) daripada laki-laki (13,9%). Dan juga pada penelitian Dennis et al (2010) di Amerika Serikat telah menemukan bahwa pemberian 500ml air putih 30 menit sebelum makan selama 12 minggu  terjadi penurunan berat badan dan juga penurunan persenan lemak daripada kelompok yang tidak minum air putih sebelum makan.
 
            Pada jurnal ini akan meneliti dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh asupan air putih 30 menit sebelum makan sebanyak 500ml selama 5 minggu terhadap berat badan, indeks massa tubuh, dan persen lemak tubuh remaja putri pada usia 18-19 tahun yang mengalami gizi lebih di Asrama Kebidanan Ngudi Waluyo, Ungaran. Subjek penelitian ini dipilih secara simple random sampling dengan berdasarkan kriteria (a) memiliki IMT ≥ 23 kg/m2; (b) bersedia menjadi subjek penelitian; (c) subjek ingin menurunkan berat badan; (d) tidak sedang menjalani program diet penurunan berat badan; (e) tidak mempunyai kebiasaan minum minuman berakholol; (f) dan subjek tinggal/berada di Asrama selama penelitian. Untuk melihat pengaruh asupan air putih dilihat pada perubahan berat badan, IMT, dan persen lemak tubuh akan di ukur menggunakan timbangan injak digital merk Omron, untuk IMT akan ditentukan dengan membandingkan berat badan dengan kuadrat tinggi badan, serta persenan lemak tubuh terhadap berat badan diukur menggunakan BIA (Bioelectrical Impedance Analysis) hand electrode. Dan juga terdapat variabel perancu yang adalah asupan energi dan aktivitas fisik yang dicatat menggunakan kusioner estimated food records dan aktivitas fisik. Penelitian ini mengunakan dua analisis yaitu, analisis Univarat yang mendeskripsikan data usia, berat badan, IMT, persen lemak tubuh, dan tingkat asupan energi. Data yang berdistribusi normal adalah berat badan sebelum dan sesudah perlakuan serta IMT sebelum dan sesudah perlakuan. Sedangkan data yang berdistribusi tidak normal adalah persen lemak tubuh sebelum dan sesudah perlakuan. Yang kedua analisis Bivariat yang dilakukan dengan uji Paired test untuk menganalisis perbedaan berat badan dan IMT sebelum dan sesudah perlakuan serta menggunakan uji Wilcoxon yang digunakan untuk menganalisis perbedaan dari persen lemak tubuh dan tingkat asupan energi sebelum dan sesudah perlakuan.
            Hasil dari penelitian ini sebelumnya didapatkan subjek yang mengikuti penelitian sebanyak 26 orang dari 40 orang dan penelitian berhenti pada minggu kelima karena subjek penelitian mengalami ketidaknyamanan  dan keberatan untuk meneruskan intervensi asupan air putih. Sebelumnya subjek penelitian ini memiliki IMT yang dikategorikan overweight dan obesitas, yaitu antara 23,2-32,9 Kg/m2 dan persenan lemak yang tidak sehat, yaitu 34,2%. Hasil penelitian pada tingkat asupan energi dan aktivitas fisik sebelum dan sesudah perlakuan tidak menunjukkan adanya perbedaan. Dan hasil pada penelitian ini mengenai pengaruh asupan air putih terhadap berat badan, IMT dan persenan lemak, tidak ada penurunan berat badan dan IMT pada tingkat asupan energi serta aktivitias fisik yang tidak adanya perbedaan seperti yang ditulis pada kalimat sebelumya. Tetapi terlihat adanya penurunan lemak tubuh sebelum dan sesudah perlakuan. Pengaruh asupan air putih sebelum makan terhadap persenan lemak tubuh disebabkan karena adanya stimulasi saraf simpatis yang nantinya akan mengeluarkan norepinefrin. Norepinefrin ini nantinya akan meningkatkan penggunaan ATP pada kontrol jalur biokimia yang merupakan peran saraf simpatis dalam termogenesis. Nantinya akan meningkatkan lipolisis didalam jaringan dan meningkatkan sintesis lipoprotein lipase kaya triasilgliserol dari sirkulasi sedangkan kondisi hipoosmolar menyebabkan penurunan konsentrrasi glukosa plasma. Sensitivitas insulin berkurang pada metabolisme glukosa perifer. Oksidasi karbohidat menjadi lebih rendah dari pada penggunaan lemak pada kondisi hipoosmolaritas. Peningktan asupan air putih hingga 1.5 liter dapat meningkatkan pengeluaran energi kira-kira 200 kJ.
            Penurunan berat badan, IMT dan persenan lemak tubuh dengan menigkatkan konsumsi air putih sebelum makan sulit dilakuakan  karena menimbulkan ketidanyamanan. Upaya penurunan berat badan, IMT dan persenan lemak tubuh perlu dilakukan melalui kombinasi antara pola makan dan aktivitas fisik. Ada beberapa keterbatasan pada penelitian ini yaitu penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja tanpa membandingkan dengan kelompok lain yang tidak meminum air putih sebelum makan, data asupan energi dan aktivitas fisik dilaporkan sendiri  oleh subjek penelitian, terdapat kejenuhan subjek meminum air putih sebelum makan, subjek tidak menghabiskan air putih yang ditetapkan sebanyak 500ml, perlakuan tidak mendapat langsung dari peneliti, serta variabel perlakuan terhadap asupan energi dan aktivitas fisik tidak di monitoring. Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan subjek yang asupan energi dan aktivitas fisik tidak mengalami perubahan adalah asupan air putih 30 menit sebelum makan selama lima minggu tidak dapat menurunkan berat badan dan IMT pada remaja puri yang memiliki gizi lebih, tetapi dapat menurunkan persenan lemak tubuh terhadap remaja putri yang memiliki gizi lebih.
Baca lebih lanjut di jurnal berikut ini :
Indri Mulyasari, S. Fatimah Muis, Apoina Kartini. Pengaruh Asupan Air Putih Terhadap Berat Badan, Indeks Massa Tubuh, dan Persen Lemak Tubuh pada Remaja Putri yang Mengalami Gizi Lebih. Jurnal Gizi Indonesia (ISSN : 1858-4942). 2015

Artikel ini ditulis oleh Wili Dirda Adventio - 41150037

Ringkasan Jurnal Gizi Oleh Dian Leandro Purba

Masa remaja merupakan salah satu tahapan yang harus dilalui sebelum seseorang menjadi dewasa. Tahap remaja adalah masa transisi antara masa anak menuju dewasa. Pada masa ini terjadi pacu tumbuh (growth spurt), timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapai fertilitas, dan terjadi perubahan-perubahan psikologis serta kognitif. Remaja yang berpeluang memiliki sumber daya manusia (SDM) berkualitas adalah remaja yang berhasil mencapai potensi biologisnya secara optimal. 


Sarapan pagi memberikan kontribusi yang penting terhadap total asupan gizi sehari. Sarapan pagi akan menyumbangkan sekitar 25% dari total asupan gizi sehari. Ini jumlah yang cukup signifikan. Jika kecukupan energy dan protein dalam sehari adalah 2000 Kkal dan 50 g, maka sarapan pagi menyumbangkan 500 Kkal energi dan 12,5 g protein. Seseorang yang tidak sarapan pagi sulit untuk memenuhi kecukupan gizinya. Anak yang tidak makan pagi, kurang dapat mengerjakan tugas di kelas yang memerlukan konsentrasi, sering mempunyai nilai hasil ujian yang rendah, mempunyai daya ingat yang terbatas, dan sering absen.

 Hubungan status gizi dengan kemampuan konsentrasi pagi hari (pukul 08.30 WIB) ini dilakukan pada siswa SMA dipilih sebagai sampel jika memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Kriteria inklusi meliputi: berusia 16-19 tahun dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian. Kriteria eksklusi meliputi: menderita anemia, sedang berpuasa, dalam keadaan sakit atau kondisi fisik yang mengganggu proses belajarnya.
Tes kemampuan konsentrasi dengan digit symbol test dan digit span test dilaksanakan pada jam 08.30 WIB dan jam 10.30 WIB yang dilakukan oleh psikolog dengan kriteria sarjana psikologi. Digit symbol test dan digit span test merupakan bagian dari 14 subtest WAIS.
Uji digit symbol mengukur koordinasi visual motoris, meliputi ketelitian, kecepatan konsentrasi, ingatan mekanis, dan pengenalan kembali. Uji ini digunakan untuk individu usia 16–89 tahun. Uji ini bersifat singkat, mudah untuk dikerjakan, dan jauh lebih murah dari uji neuropsikiatri lainnya.  Digit span test merupakan uji mengulangi kembali dengan segera tanpa berpikir panjang. Memiliki kemampuan untuk menguji perubahan pola pikir khususnya dalam hal perhatian dan konsentrasi terhadap informasi yang didengar.

Berdasarkan tabel diketahui bahwa kelompok remaja yang berstatus gizi normal memiliki nilai rata-rata skor kemampuan konsentrasi dengan digit symbol test dan digit span test pagi hari yang lebih tinggi dibandingkan kelompok remaja yang berstatus gizi kurus, overweight, dan obesitas.

 Hasil analisis independent samples t-test menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna kemampuan konsentrasi dengan digit symbol test dan digit span test pagi hari antara remaja yang berstatus gizi normal, kurus, gemuk, dan obesitas. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan pendapat yang menyatakan bahwa status gizi mempengaruhi kemampuan konsentrasi dan prestasi belajar, di mana orang yang berstatus gizi kurang akan mengalami gangguan dalam konsentrasi belajar.

Kemampuan konsentrasi remaja untuk kedua jenis tes menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil tes pada pukul 08.30 WIB lebih rendah dari pukul 10.30 WIB. Hasil analisis paired samples t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara kemampuan konsentrasi dengan metode digit symbol test pada pukul 08.30 WIB dengan pukul 10.30 WIB (p=0,001), demikian pula terdapat perbedaan yang bermakna antara kemampuan konsentrasi dengan metode digit span test pada pukul 08.30 WIB dengan pukul 10.30 WIB (p=0,001). Lebih tingginya kemampuan konsentrasi kedua jenis tes pada pukul 10.30 WIB dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti pengaruh asupan gizi yang diperoleh dari jajan pada jam istirahat pertama dan sudah terbiasanya subjek dengan tes yang dilakukan.


Baca lebih lanjut di Jurnal berikut ini :
Mohammad Muchtar, Madarina Julia, Indria Laksmi Gamayanti. Sarapan dan Jajan Berhubungan Dengan Kemampuan Konsentrasi pada Remaja. Jurnal Gizi Klinik Indonesia 2011


Artikel ini ditulis oleh Dian Leandro Purba – 41150067

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Stany Renjaan

Gizi merupakan satu indikator penting dalam mengukur kesuksesan satu negara. Permasalahan gizi yang masih menjadi masalah utama di dunia adalah malnutrisi. Malnutrisi dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap penyakit dan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Tiga faktor utama yang mempengaruhi status gizi anak yaitu aspek konsumsi, kesehatan anak, dan pengasuhan psikososial.
Diare adalah suatu keadaan yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari tiga kali sehari yang disertai dengan perubahan konsistensi tinja menjadi lebih cair, dengan/tanpa darah dan dengan/tanpa lendir. Diare menjadi penyebab kematian terbanyak nomor dua pada anak berusia di bawah lima tahun dengan 1,5 juta anak meninggal tiap tahunnya. Diare juga merupakan penyebab utama kejadian malnutrisi pada anak berusia di bawah lima tahun.
Prevalensi diare di Indonesia sebanyak 9% dan Sumatera Barat termasuk dalam salah satu provinsi dengan prevalensi diare klinis di atas rata-rata yaitu 9,2%. Di Kota Padang, diare masih termasuk ke dalam 10 penyakit terbanyak yang diderita masyarakat. Kelompok umur terbanyak adalah anak berusia di bawah lima tahun (45,8%).

Penelitian yang dilakukan oleh Scrimshaw, Taylor, dan Gordon (1968) memperlihatkan bahwa terdapat hubungan timbal balik antara diare dan malnutrisi. Diare dapat menimbulkan terjadinya malnutrisi dan sebaliknya, malnutrisi juga bisa menjadi penyebab timbulnya diare. Infeksi yang menimbulakan diare mempengaruhi status gizi melalui penurunan asupan makanan, penurunan absorpsi makanan di usus, meningkatkan katabolisme, dan mengambil nutrisi yang diperlukan tubuh untuk sintesis jaringan dan pertumbuhan. Di samping itu, malnutrisi bisa menjadi faktor predisposisi terjadinya infeksi karena menurunkan pertahanan tubuh dan mengganggu fungsi kekebalan tubuh manusia.
Beberapa hasil dari penelitian yang dilakukan sebagai berikut;
1.      Status Gizi Balita
Sebagian besar balita memiliki status gizi baik (84,1%) dan masih ditemukan balita gizi kurang sebanyak 13,8% serta gizi buruk 2,1%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa persentase balita gizi kurang di Kelurahan Lubuk Buaya masih tinggi bila dibandingkan dengan persentase di Puskesmas Lubuk Buaya (10,0%), di Kota Padang (12,4%), dan di Indonesia (13,0%).
2.      Diare pada Balita
Kejadian diare pada balita di Kelurahan Lubuk Buaya sebanyak 25,5%. Angka kejadiannya masih tinggi jika dibandingkan dengan prevalensi diare di Indonesia (16,7%) dan di negara berkembang lainnya seperti bagian rural Bangladesh (7,6%).
Menurut Santoso dan Ranti (1995), anak balita lebih rentan menderita penyakit infeksi karena sudah mulai bergerak aktif untuk bermain, sehingga sangat mudah terkontaminasi oleh kotoran. Pudjiadi (2000) juga menjelaskan bahwa anak usia 2-5 tahun sudah mulai memiliki kebiasaan membeli makanan jajanan yang belum tentu terjaga kebersihannya, baik dalam pengolahan maupun penyajiannya, sehingga sangat mudah terkontaminasi oleh kuman yang bisa menyebabkan diare.
3.      Hubungan Diare dengan Status Gizi Balita
Balita yang mengalami status gizi kurang lebih banyak terjadi pada balita diare (18,9%) dibandingkan dengan balita tidak diare (14,8%). Namun, hasil analisis secara statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian diare dalam sebulan terakhir dengan status gizi balita di Kelurahan Lubuk Buaya (p >0,05).
Penelitian lain yang dilakukan oleh Indriyasti di Puskesmas Karawaci Baru Kota Tangerang juga memperlihatkan hasil yang sama dengan peneliti yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kejadian penyakit diare dengan status gizi balita.
Rerata frekuensi diare pada balita adalah 1 kali dalam sebulan terakhir dan rerata durasi diare adalah 3,0 hari (SD±2,0). Penelitian Nurcahyo dkk pada balita usia 12-59 bulan di Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa semakin sering frekuensi diare maka status gizi balita menurut BB/U akan semakin buruk.
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kejadian balita gizi kurang di Kelurahan Lubuk Buaya cukup tinggi dan masih ditemukan kejadian balita gizi buruk. Kasus diare pada balita juga masih tinggi dan dari hasil uji statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara diare dengan status gizi balita usia 12-60 bulan di Kelurahan Lubuk Buaya.

Baca lebih lanjut jurnal berikut ini:
Alania Rosari, Eka Agustia Rini, Masrul; Hubungan Diare dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. 2013; 2(3) http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/download/138/133

Artikel ini ditulis oleh Isaias Stany Renjaan - 41150080

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Nathania Akira Susanto

The Look AHEAD yang merupakan singkatan dari Action on Health for Diabetes meneliti tentang pengaruh penurunan berat badan yang baik terhadap kualitas hidup pada orang yang menderita diabetes tipe 2. AHEAD sendiri dibagi dalam beberapa cabang. Cabang pertamanya ialah ILI ( Intensive Lifestyle Intervention) di mana di sini probandus yang mengidap diabetes tipe 2 akan dipantau secara intensif mengenai penurunan berat badannya dan dikoreksi dari sisi gaya hidupnya secara mendasar dan menyeluruh. Hasilnya menunjukkan bahwa probandus program ILI ini rata-rata menurunkan berat sebanyak 8,6% dari berat tubuhnya. Hal ini dikarenakan ILI memantau secara keseluruhan dari semua aspek seperti dari sisi kesehatan probandus, olahraga, dan pola makan. ILI sendiri sudah memantau probandusnya selama bertahun-tahun guna untuk mengamati apakah ada pertambahan berat badan.
Penurunan berat yang dilakukan oleh program ILI sebenarnya sangat intens. Di mana probandus tidak akan hanya dibimbing untuk dapat menurunkan berat, tetapi suja akan didukung dengan fasititas konselor.

Cabang kedua dari program AHEAD adalah DSE ( Diet Support and Education ). Di sini probandus yang mengalami diabetes tipe 2 akan dibimbing secara intensif lebih ke arah membentuk "state of mind" dan pengetahuan mengenai penurunan berat badan itu sendiri. Di sini para probandus akan sering dikumpulkan untuk membentuk support group untuk saling sharing pengalaman mereka, saling memberikan dukungan dan tips-tips.
Dari penjabaran saya di atas mengenai program ILI dan DSE tentu saja memiliki perbedaan yg cukup besar. Maka dari itu, setelah empat tahun melakukan penelitian tentang metode penurunan berat badan tersebut, tampak bahwa para probandus yang mengikuti program ILI lebih banyak menurunkan berat badan dibandingkan yang mengikuti program DSE. Hal ini tentu saja dapat dilogika karena pada penelitian program ILI, probandus diberikan perhatian secara menyeluruh tidak hanya dari sisi ilmu dan psikisnya saja tetapi juga dipantau dari sisi lainnya seperti kesehatan dan pola makan. Maka, dapat saya simpulkan bahwa menurunkan berat badan itu merupakan masalah yang kompleks karena kita tidak hanya akan mengoreksi atau mengamati satu sisi saja.

Ringkasan Jurnal ini ditulis Oleh Nathania Akira Susanto 41150009

sumber dari Jurnal : 
Four-year weight losses in the Look AHEAD study: factors associated with long-term success. 
oleh Wadden dan Neighberh tahun 2011 dan diterbitkan di Medline.

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Ariani Wanti Paluta

Derajat kesehatan masyarakat yang optimal adalah tingkat kondisi kesehatan yang tinggi dan mungkin dicapai jika kondisi dan situasi serta kemampuan dari setiap anggota masyarakat dan harus selalu diupayakan peningkatan secara terus-menerus. Anak usia 1-3 tahun adalah kelompok umur yang rentan terhadap gangguan kesehatan terutama penyakit infeksi, karena pada usia 1-3 tahun sudah mulai mengenal lingkungan luar dan dapat memilih makanan sendiri walupun tetap dengan bimbingan orang tua. Suplementasi vitamin A menurunkan morbiditas penyakit demam, diare, campak, dan memperbaiki status gizi (wasting, underweight). Namun, pada kenyataanya sampai saat ini didalam masyarakat masih terdapat berbagai kekurangan gizi pada anak. Penyebab langsung masalah gizi secara garis besar terkait dengan konsumsi makanan yang masih kurang dibandingkan dengan kebutuhan serta adanya penyakit infeksi. Kebutuhan zat gizi untuk tubuh dapat diperoleh melalui asupan makanan yang mengandung sumber zat gizi makro (energi, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) yang semuanya berperan dalam pertumbuhan anak.
Vitamin A, vitamin C, dan zink berfungsi untuk pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup melalui sistem imunitas. Kekurangan vitamin A, vitamin C, dan zink dapat meningkatkan risiko anak terhadap penyakit infeksi seperti penyakit saluran pernapasan, diare, dan demam. Di samping itu, meningkatnya penyakit infeksi dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan. Kekurangan vitamin A pada populasi dapat dilakukan pemeriksaan secara biokimia dengan pemeriksaan serum retinol darah. Indikator defi siensi vitamin A antara lain dapat dilihat dari konsentrasi retinol. Subjek yang mendapatkan suplementasi vitamin A lengkap memiliki morbiditas penyakit infeksi yang rendah dibandingkan dengan anak yang tidak lengkap mendapatkan suplementasi vitamin A dalam satu tahun terakhir. Terdapat hubungan antara asupan lemak dengan serum retinol (p<0,05). Sebanyak 16,5% subjek dengan tingkat kecukupan lemak kurang memiliki morbiditas tinggi.

Pemberian suplementasi vitamin A 200.000 IU pada anak secara signifikan dapat meningkatkan serum retinol. Pemberian suplementasi vitamin A pada anak selama penyakit infeksi dapat meningkatkan serum retinol dan membantu mengatasi pneumonia, campak, serta menunjukkan pentingnya serum retinol untuk kemajuan program suplementasi vitamin A. Suplementasi vitamin A yang diberikan dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas secara spesifik pada anak usia 6-59 bulan di negara berkembang.
Rendahnya asupan energi dan protein subjek kemungkinan disebabkan oleh ibu subjek yang hanya memberikan makan pokok dua kali dalam sehari. Subjek dengan tingkat kecukupan lemak kurang berisiko memiliki serum retinol rendah. Mengkonsumsi makanan mengandung lemak pada anak-anak akan meningkatkan serum retinol sama dengan penambahan makanan sumber beta-karoten. Tingkat penyerapan vitamin A sangat tergantung pada kecukupan konsumsi lemak.
Hasil penelitian menunjukan tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan energi, protein, dan lemak dengan morbiditas subjek (p=0,248; p=0,261; p=0,198). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh banyak faktor lain yang mempengaruhi morbiditas seperti lingkungan, sumber penyakit (agens), dan pejamu (host). Berbeda dengan asupan protein yang menunjukkan tidak adanya hubungan dengan kejadian ISPA pada anak, hal ini karena ISPA tidak hanya dipengaruhi oleh asupan protein dan zink saja, melainkan terdapat banyak faktor yang tidak diteliti yang dapat menjadi penyebab munculnya ISPA seperti asupan vitamin C, vitamin B, vitamin D, vitamin E, dan vitamin A yang dapat menurunkan imunitas yang pada akhirnya akan meningkatkan risiko terkena penyakit ISPA. Lemak merupakan pelarut beberapa vitamin larut lemak serta berperan penting untuk ketersediaan asam lemak, linoleat, dan asam linolenat. Asam lemak esensial harus tersedia minimal 4% dari jumlah kkal makanan untuk mencegah defisiensi. Salah satu faktor yang mempengaruhi serum retinol dalam darah adalah asupan vitamin A yang disimpan dalam hati. Vitamin A berperan penting dalam pemeliharaan sel epitel oleh karena vitamin A sangat berperan dalam imunitas.
Tingkat kecukupan vitamin C dan zink yang kurang, berisiko memiliki morbiditas tinggi pada subjek. Asupan vitamin C dapat meningkatkan beberapa komponen dalam tubuh yang berfungsi untuk kekebalan tubuh seperti anti-mikrobisida, limfosit proliferasi, kemotaksis, dan respon imun. Fungsi imun dengan menstimulasi produksi interferon (protein yang melindungi sel dari serangan virus) dapat ditingkatkan dengan vitamin C. Di samping itu, ditemukan juga adanya hubungan antara kejadian ISPA dengan konsumsi zink subjek.


Artikel ini ditulis oleh Ariani Wanti Paluta – 41150027

Informasi tambahan:

Judul Artikel                : SUPLEMENTASI VITAMIN A DAN ASUPAN ZAT GIZI DENGAN SERUM RETINOL DAN MORBIDITAS ANAK 1-3 TAHUN
Penulis                         : Milliyantri Elvandari, Dodik Briawan, Ikeu Tanziha
Nama Jurnal                : Jurnal Gizi Klinik Indonesia
Tahun Terbit               :2017
Link Jurnal                   : https://jurnal.ugm.ac.id/jgki/article/view/17938/15972

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Maria Christina

Ringkasan Jurnal Gizi oleh Maria Christina

Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas Sumber Daya Manusia. Status Gizi akan mempengaruhi proses perkembangan dan pertumbuhan anak, termasuk kemampuan intelektual yang berdampak pada prestasi belajar di sekolah. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1-5 yang berjumlah 120 orang. Kriteria inklusi melibatkan siswa kelas 1-5 yang sedang dalam keadaan sehat, tidak mengalami udem, dan tidak mempunyai kelainan kongenital tinggi dan berat badan. Sementara, yang termasuk kriteria eksklusi adalah siswa yang tidak hadir saat penelitian dan siswa yang tidak kooperatif saat penelitian. Data yang diperoleh, diolah dan dianalisis dengan uji statistik chi square pada p-value<0.05 dengan tingkat kepercayaan 95%. Didapatkan hasil siswa dengan status gizi normal sebanyak 63.3%, status gizi wasting (kurus dan sangat kurus) sebanyak 21.6%, dan status gizi stunting (pendek dan sangat pendek) sebanyak 7.5%.
Pada uji analisis dengan chi square didapatkan p = 0.020 (p<0.05) untuk status gizi wasting dan p = 0.005 (p<0.05) untuk status gizi stunting. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara status gizi seorang anak dengan prestasi belajarnya di sekolah. Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Ijarotimi dan Ijadunola di Nigeria. Mereka menemukan bahwa, pada anak yang kekurangan gizi akan terjadi perubahan pada metabolisme yang berdampak pada kemampuan kognitif dan kemampuan otak. Sementara Sorhaindo dan Feinstein di London menemukan bahwa gizi buruk anak akan mempengauhi sistem imunnya sehingga mudah menderita penyakit infeksi. Hal ini mempengaruhi angka kehadirannya di sekolah yang akan berdampak pada ketertinggalan pembelajaran. Status gizi yang kurang akan menyebabkan otak tidak berkembang sempurna, kognitif dan perkembangan IQ terhambat. Sebagai contoh, seorang anak yang kekurangan protein akan berefek pada fungsi hippocampus dan korteks dalam membentuk dan menyimpan memori.

Kekurangan gizi masa lalu akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak terutama jika terjadi saat golden periode (3 tahun) tumbuh kembang anak. Hal ini menyebabkan gangguang fungsi normal otak, sementara dampak kronis nya adalah stunting, jumlah sel dalam otak berkurang dan terjadi ketidak matangan serta ketidak sempurnaan organisasi biokimia dalam otak. Keadaan ini juga akan berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak.

Baca selengkapnya di :
Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padangpanjang – Rosita Hayatus Sa'adah, Rahmatina B. Herman, Susila Sastri – Jurnal FK UNAND tahun 2014 – diakses via http://jurnal.fk.unand.ac.id

Artikel ini ditulis oleh Maria Christina Prabowo - 41150052

Ringkasan Jurnal Gizi Oleh Julia Elfreda Chandra


Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel abnormal tersebut untuk menyerang jaringan biologis disekitarnya, baik dengan pertumbuhan langsung (invansi) maupun menyebar ke organ yang jauh (metastasis).  Bila seseorang terdiagnosa kanker, maka orang tersebut akan mengalami ketakutan, kecemasan, dan stress yang merangsang hormon katekolamin, yaitu hormon yang dapat menurunkan nafsu makan dimana penurunan ini akan diikuti oleh penurunan berat badan drastis yang akan berujung pada kejadian kakeksia, yaitu ketidakseimbangan antara asupan dengan kebutuhan zat gizi yang meningkat. Bila hal ini terus berlangsung, maka akan dapat menimbulkan masalah gizi, salah satunya adalah malnutrisi, meski malnutrisi juga dapat terjadi akibat efek samping dari terapi medis yang sedang dijalani. Terapi yang dijalani dapat menimbulkan mual, muntah, diare, penurunan nafsu makan, gangguan menelan, dan gangguang absorpsi serta gangguang psikologis seperti rasa cemas hingga frustasi bahkan putus asa. Selain itu, pasien kanker juga akan mengalami gangguan fisik yang dapat menurunkan asupan makannya sebagai efek samping terapi. Oleh karena itu, keluarga sangat dibutuhkan sebagai pendamping dalam hal psikologis, perawatan, dan pemberian asupan nutrisi pada pasien.

Makanan mempunyai peran penting sejak pasien terdiagnosa kanker, pelaksanaan pengobatan, hingga penyembuhan. Pada penderita kanker, kebutuhan gizi akan meningkat akibat proses keganasannya. Selain itu, pengobatan juga akan berjalan lebih baik jika pasien dalam keadaan status gizi baik. Penatalaksanaan makan pada pasien dapat meningkatkan berat badan dan protein tubuh . Meskipun tidak dapat mengembalikan status gizi secara sempurna, namun dapat menurunkan kerentanan pasien terhadap infeksi dan mengurangi gejala akibat efek samping pengobatan sehingga pengobatan dapat berlangsung sampai tuntas.
Pada penelitian terhadap 20 orang penderita kanker dalam 1 rumah sakit yang menggunakan kuisoner yang berisikan usia, jenis kelamin, jenis kanker, stadium  kanker, jenis terapi; peran dukungan pendamping; dan lembar food frequency checklist dengan frekuensi makan harian (1 kali, 2 kali, dan 3 kali sehari) untuk mengetahui kebiasaan makan pasien yang terdiri dari jenis dan frekuensi makan, didapatkan hasil bahwa prevalensi kanker meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan kanker yang paling banyak menyerang pasien adalah kanker serviks serta 90% dari total pasien adalah perempuan. Selain itu, stadium yang paling banyak dialami adalah stadium 3, dan pengobatan yang sedang dijalani, 80%nya adalah radioterapi.
Untuk peran dukungan pendamping sudah termasuk baik dan cukup, dimana akan dikatakan baik bila dapat memenuhi kebutuhan pasien, terutama dalam pemenuhan nutrisi. Selain itu juga, pasien yang memperoleh dukungan keluarga yang baik akan memiliki nafsu makan yang baik. Makan bersama dengan pendamping pun dapat membuat pasien tidak merasa sendiri dan membuat pasien lebih nafsu makan.
Untuk jenis dan frekuensi makan akan diberi skor dan disesuaikan dengan kategori pada Health Eating Index. Sedangkan jenis karbohidrat yang paling banyak dikonsumsi adalah nasi putih dimana karbohidrat berguna untuk mencegah pemecahan protein dalam tubuh yang berlebihan, kehilangan mineral, dan membantu metabolisme lemak dan protein. Jenis protein hewani yang paling sering di konsumsi adalah telur ayam dimana telur ayam merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan kaya akan asam amino esensial. Kandungan tersebut akan dibutuhkan tubuh untuk proses penyembuhan, menggantikan jaringan yang rusak, dan membentuk sistem pertahanan tubuh. Sedangkan untuk protein nabati yang paling banyak dikonsumsi adalah tempe dan tahu dimana kacang-kacangan serta olahannya (seperti tahu dan tempe) merupakan sumber protein yang mengandung asam amino esensial namun tidak selengkap pada bahan hewani, maka konsumsinya harus beraneka ragam. Selain itu, tempe dan tahu yang merupakan olahan fermentasi kedelai dapat meningkatkan ketersediaan zat besi dimana zat tersebut sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kadar Hb agar dapat menjalani proses terapi dan meningkatkan keberhasilan terapi.
Untuk buah-buahan, yang paling banyak dikonsumsi adalah pisang yang merupakan buah yang aman dikonsumsi, tidak menimbulkan gas, dapat menurunkan sembelit sebagai efek samping terapi, sumber vitamin B6 yang dibutuhkan untuk membuat serotonin dalam otak yang berfungsi untuk mengurangi rasa sakit dan membuat rileks serta mengurangi ketegangan. Dari segi sayur mayur, kangkung, sawi, dan wortel merupakan pilihan terbanyak dari pasien. Wortel kaya akan kandungan beta-karoten, vitamin C, asam folat, dan zat antioksidan. Selain iu, sayuran berdaun hijau seperti bayam dan kangkung mengandung Folic acid yang dikenal sebagai vitamin B9 yang bisa mencegah menyebarnya sel kanker sehingga membantu pengobatan kanker. Namun, sawi dapat menimbulkan gas dan sulit dicerna sehingga konsumsinya perlu dibatasi. Di samping kaya vitamin dan mineral, buah segar juga mengandung banyak cairan untuk melarutkan sisa metabolisme obat dan sel-sel kanker yang rusak atau mati akibat pengobatan. Selain itu, senyawa fitokimia yang ada dalam sayuran dan buah berfungsi untuk detoksifikasi, merangsang sistem kekebalan tubuh (imunitas), mencegah penggumpalan trombosit, meningkatkan pengenceran dan pengikatan zat karsinogen dalam usus, efek anti bakteri, serta antioksidan.
Konsumsi susu sapi memiliki frekuensi konsumsi harian paling sering. Susu dan hasil olahannya, seperti susu sapi, keju, dan yoghurt dapat dijadikan sebagai sumber protein hewani dan energi dari karbohidrat dan lemak selama pasien kanker dapat menerimanya. Selain itu, jenis minuman yang paling banyak dikonsumsi adalah teh yang dapat membuat tubuh segar dan rileks karena kandungan teanin melepas neurotransmitter yang dapat memperbaiki mood. Namun, konsumsi teh sebaiknya dibatasi maksimal 2 cangkir dalam sehari karena teh mengandung asam thanat yang mudah bersenyawa dengan zat besi sehingga mengganggu penyerapan zat besi. Sedangkan pasien kanker membutuhkan asupan zat besi yang cukup untuk mempertahankan kadar Hb sebagai salah satu syarat untuk dapat menjalani terapi.
Baca lebih lanjut di jurnal berikut ini

Stefana Danty Putri Caesandri dan Sri Adiningsih; Peranan Dukungan Pendamping dan Kebiasaan Makan Pasien Kanker Selama Menjalani Terapi; Media Gizi Indonesia, Vol. 10, No. 2 Juli–Desember 2015: hlm. 157–165 (http://e-journal.unair.ac.id/index.php/MGI/article/download/3376/2417)

Artikel ini ditulis oleh Julia Elfreda Chandra - 41150022

Ikutilah Jalan Orang Baik dan Orang Benar

Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar. Amsal 2:20 TB